ADVERTISEMENT

Stupa Candi Borobudur: Ragam Rupa dan Maknanya

Kanya Anindita Mutiarasari - detikNews
Selasa, 07 Jun 2022 14:18 WIB
Stupa Candi Borobudur adalah simbol tempat bersejarah tersebut. Stupa adalah lambang agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik dan terbuat dari bebatuan.
Rupa Stupa Candi Borobudur, Cek Infonya di Sini (Foto: kemdikbud.go.id)
Jakarta -

Stupa Candi Borobudur adalah simbol dari tempat bersejarah tersebut. Stupa juga adalah lambang agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik dan terbuat dari bebatuan.

Stupa juga memiliki relief (ukiran) yang tentunya memiliki makna tersendiri. Berikut informasi tentang stupa di Candi Borobudur.

Ragam Stupa Candi Borobudur

Mengutip dari situs Kemdikbud, stupa Candi Borobudur juga sering disebut berbentuk genta atau lonceng. Stupa pada Candi Borobudur terdiri dari stupa induk, stupa teras, dan stupa-stupa kecil sebagai ornamen tubuh candi atau pagar langkan.

Stupa induk adalah stupa utama atau stupa puncak yang paling besar di antara supa teras lainnya. Stupa induk tidak berlubang dan mempunyai garis tengah 9,90 meter dan tinggi 7 meter. Di dalam stupa induk ini terdapat rongga yang ketika ditemukan dalam keadaan kosong.

Ada yang berpendapat bahwa rongga tersebut dahulunya merupakan ruangan untuk tempat menyimpan arca atau relik (peninggalan-peninggalan yang dianggap suci, seperti benda-benda, pakaian, tulang belulang Sang Buddha, arhat dari bhiksu terkemuka). Sebagian lagi berpendapat bahwa rongga dalam stupa ini memang kosong, mengingat bahwa stupa pada tingkat Arupadhatu menyimbolkan unsur tak berwujud.

Stupa Candi Borobudur adalah simbol tempat bersejarah tersebut. Stupa adalah lambang agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik dan terbuat dari bebatuan.Stupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah (Foto: kemdikbud.go.id)

Makna Chattra di Stupa Candi Borobudur

Pada puncak stupa, biasanya terdapat chattra yang berada di paling atas dan berbentuk payung bersusun tiga. Secara filosofi keagamaan, memang ada bentuk seperti ini, misalnya di Bodh Gaya.

Gagasan mengenai chattra Candi Borobudur dikemukakan pertama kali oleh Van Erp pada tahun 1931. Gagasan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk rekonstruksi stupa utuh dengan tiga susun chattra dan ditambah susunan batu sebanyak 9 lapis di bawahnya. Saat ini, chattra masih dapat dilihat di Museum Borobudur di area Taman Wisata Candi Borobudur.

Di bawah bentuk chattra terdapat susunan batu berbentuk tongkat yang dinamakan yasti. Di bawah yasti ada harmika, yaitu bagian antara badan dan puncak stupa.

Harmika pada Candi induk mempunyai dua bentuk, yaitu persegi empat dan persegi delapan. Pada stupa-stupa teras melingkar, bagian harmika pada teras I dan II (bawah) berbentuk kotak, sedangkan pada stupa teras III (atas) berbentuk persegi delapan.

Kegunaan Stupa Candi Borobudur Bagi Umat Buddha

Melansir dari situs Kabupaten Magelang, stupa dalam budaya agama Buddha didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para siswa yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik disebut saririka dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa kristal setelah dilaksanakan kremasi.

Bila belum mencapai kesucian, sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Diyakini bahwa relik ini mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan baik. Pada setiap upacara Waisak, relik ini juga dibawa dalam prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk ditempatkan pada altar utama di Pelataran Barat.

Simak juga video 'Respons Turis Lokal dan Asing soal Harga Tiket Candi Borobudur':

[Gambas:Video 20detik]



(kny/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT