ADVERTISEMENT

Litbang Kompas: Pecah Kubu Pilpres 2019 Dinilai Rusak Demokrasi

Tim detikcom - detikNews
Senin, 06 Jun 2022 11:24 WIB
Ilustrasi jari yang dicelupkan ke tinta usai pemilu
Ilustrasi jari yang dicelupkan ke tinta usai pemilu. (Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta -

Litbang Kompas mengeluarkan survei terkait polarisasi di tengah masyarakat usai Pilpres 2019. Mayoritas responden menilai pecah kubu merusak demokrasi.

Metode penelitian yang dilakukan Litbang Kompas dengan menumpulkan pendapat melalui telepon. Survei dilakukan 24 hingga 29 Mei 2022. Sebanyak 1.004 responden diwawancarai dengan usia minimal 17 tahun dari 34 provinsi. Sampel ditentukan secara acak dari responden panel Litbang Kompas sesuai jumlah penduduk di tiap provinsi. Tingkat kepercayaan menggunakan metode ini 95 persen. Margin of error 3,09 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Kesalahan di luar margin of error dinyatakan dimungkinkan terjadi.

Dalam rilis survei Litbang Kompas yang ditulis Senin (6/6/2022), ada sejumlah pertanyaan yang dilemparkan kepada 1.004 responden tersebut. Berikut ini hasil survei Litbang Kompas mengenai polarisasi di tengah masyarakat usai Pilpres 2019:

Menurut Anda, saat ini semakin baik atau semakin burukkah hubungan antara dua kubu yang berseberangan politik sejak Pilpres 2019?

Pemilih Jokowi-Ma'ruf
Semakin baik: 47,9%
Semakin buruk: 38,5%
Tidak tahu: 13,6%

Pemilih Prabowo-Sandiaga
Semakin baik: 31,4%
Semakin buruk: 56,6%
Tidak tahu: 12%

Pemilih Golput
Semakin baik: 45,2%
Semakin buruk: 30,5%
Tidak tahu: 24,3%

Khawatir atau tidak khawatir Anda kondisi keterbelahan atau kubu-kubuan ini berlanjut hingga Pilpres 2024?

Pemilih Jokowi-Ma'ruf
Khawatir: 71,9%
Tidak Khawatir: 24,4%
Tidak Tahu: 3,7%

Pemilih Prabowo-Sandiaga
Khawatir: 76,9%
Tidak Khawatir: 20,7%
Tidak Tahu: 2,4%

Pemilih Golput
Khawatir: 65%
Tidak Khawatir: 31,1%
Tidak Tahu: 3,1%

Menurut Anda, Faktor apa yang membuat keterbelahan atau kubu-kubuan ini semakin meruncing/memanas?

Influencer/buzzer/provokator yang memperkeruh suasana: 36,3%
Informasi yang tidak lengkap/tidak benar/hoaks: 21,6%
Kurangnya peran dari tokoh bangsa dalam meredakan perselisihan/perbedaan: 13,4%
Teknologi medsos: 5,8%
Mementingkan kepentingan sendiri: 4,6%
Minimnya semangat persatuan: 2,1%
Lain-lain: 9.1%
Tidak Tahu: 7,1%

Menurut Anda, apakah keterbelahan atau kubu-kubuan ini merusak demokrasi kita?

Ya: 79,1%
Tidak: 16,7%
TIdak tahu: 4,2%

Untuk mengurangi keterbelahan di antara kedua kubu atau mencegah perpecahan lebih lanjut, setuju atau tidak setujukah Anda jika istilah/label cebong-kadrun/kampret harus diakhiri?

Setuju: 84,6%
Tidak Setuju: 8,6%
Tidak Tahu: 6,8%

Kedua kubu menahan diri untuk tidak berkomentar diri untuk tidak berkomentar di medsos yang dapat menimbulkan kebencian/kemarahan?

Setuju: 90,2%
Tidak Setuju: 8,2%
Tidak Tahu: 1,6%

Tindak tegas influencer/buzzer yang memperkeruh suasana?

Setuju: 87,8%
Tidak Setuju: 11,1%
Tidak Tahu: 1,1%

Simak juga video 'Jokowi-KPU Sepakat Masa Kampanye Pemilu 2024 Jadi 90 Hari':

[Gambas:Video 20detik]



(idn/gbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT