ADVERTISEMENT

Elegi Badut Masa Kini di Mata Panglima Badut

Nada Celesta - detikNews
Minggu, 05 Jun 2022 18:02 WIB
Jakarta -

Sejak pertama kali muncul pada 1800-an di Inggris, jejak badut yang dikenal sebagai sosok lucu dan menghibur berubah menjadi figur mengerikan sekitar 100 tahun setelahnya. Pertunjukan opera berjudul 'Pagliacci' karya Ruggero Leoncavallo yang dipentaskan sekitar awal abad ke-19 di wilayah Eropa menjadi puncak dualisme sosok badut di dunia.

Namun hal berbeda terjadi di Indonesia. Coreng-moreng wajah, lukisan tawa artifisial, dilengkapi hidung merah berbentuk bundar menjadi ciri khas badut yang dikenal masyarakat hingga akhir 2020-an.

Seiring banyaknya orang-orang berkostum badut di jalanan yang acap kali menunjukkan mimik sedih atau mengharapkan uang dari orang lain, wawasan masyarakat akan badut kemudian perlahan berubah.

Untuk menjadi seorang badut yang sebenarnya, bukan hanya riasan yang dibutuhkan, tapi juga keahlian. Delon, alter ego Dedy Rachmanto, yang dikenal sebagai panglima badut Indonesia, menegaskan ada nilai lain yang harus dimiliki oleh badut 'asli'.

"Badut tuh make up, mereka pakai topeng bukan badut. Mereka pakai kostum badut untuk menutupi yang aslinya, sebenarnya dia aslinya minta-minta. Kami bermain sulap, bermain akrobatik, melakukan atraksi untuk anak-anak," ujar Dedy dalam program Sosok, Minggu (5/6/2022).

Selama 43 tahun mendalami profesinya, Dedy meyakini ada sisi profesionalitas yang perlu ditegakkan saat kostum sudah menempel di badan. Baginya, badut adalah seorang performer.

"Yang sesungguhnya kan lebih ke di sini, bukan pity, tapi hati, ini seni," lanjutnya.

Tokoh politik disebut 'badut', di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT