ADVERTISEMENT

Kisah Pilu Pak Paekan, Hanya Bisa Terbaring Lemah Usai Jatuh dari Pohon

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 04 Jun 2022 17:27 WIB
Pak Paekan asal Gunung Kidul, Yogyakarta terbaring lemah setelah jatuh dari pohon. Kini, hanya istri dan dua anak perempuannya yang menjadi penopang hidupnya.
Kisah Pilu Pak Paekan, Hanya Bisa Terbaring Lemah Usai Jatuh dari Pohon (Foto: berbuatbaik.id)
Jakarta -

Siang itu asap membumbung tinggi di kediaman Pak Paekan (64) di Gunung Kidul, Yogyakarta. Kepulan asap nyaris ada setiap hari. Bukan lantaran ada kejadian, melainkan sang istri, Radiem, tengah mengasapi lembaran anyaman untuk membuat tampah.

Tim berbuatbaik.id yang mendampingi, terus mengeluarkan air mata akibat pedih tak terkira karena asap. Sementara, Radiem, tersenyum memaklumi dan ikhlas.

Proses pengasapan ini penting saat membuat anyaman tampah. Tujuannya agar warna tampah menjadi lebih coklat sehingga membuatnya menarik pembeli. Jika Radiem sibuk di dapur belakang, di ruang lain tanpa di sekat, Pak Paekan terbaring lemah. Sesekali dia menarik kakinya yang sudah tak bergerak dengan tali ke sisi lainnya ketika badan sudah terasa pegal.

Nyaris tak ada yang bisa dilakukan Pak Paekan setelah dirinya jatuh dari pohon yang menyebabkan dirinya alami patah tulang belakang dan mempengaruhi saraf-sarafnya. Maka hanya Radiem dan dua anak perempuannya yang kini menjadi penopang hidupnya.

"Kalau ati capek wes gak ada (tidak capek hati). Semangat!" ucapnya Pak Paekan mantap kepada tim berbuatbaik.id.

Menurut putrinya, sudah 2 kali bapaknya jalani operasi pemasangan pen namun belum ada kemajuan yang berarti. Tidak hanya lumpuh, Pak Paekan juga punya luka di belakang punggung dan bokongnya karena terlalu banyak berbaring. Dia mengatakan 3 hari sekali luka bapaknya harus dibersihkan dan diganti perbannya oleh perawat yang harus dibayar sekitar Rp 100 ribu untuk biaya perawatan.

Tari pun menuturkan selain beban perawatan, keluarga ini juga harus segara mengganti kasur bapaknya lantaran sudah bocor. Sementara kasur medis itu diperlukan untuk terus menopang tubuh Pak Paekan yang sakit. Namun apa daya, lagi-lagi biaya menjadi ganjalannya.

"Ya cuma kayak gitu bapak nggak bisa jalan lagi yg penting bisa ngeliat keluarga seneng. Selama Bapak semangat. Moga-moga aja aku bisa sukses bisa bahagiain orang tua lah," ucap Tari sembari menahan air matanya.

Ketabahan yang sama juga dirasakan Radiem. Sudah 3 tahun sang istri harus menggantikan peran sang suami. Memotong bambu, menganyam, dan pekerjaan kasar lainnya terpaksa dia lakukan agar bisa tetap makan.

Satu tampah dihargai bervariatif, mulai Rp 6 ribu hingga Rp 9 ribu. Dalam satu minggu, Radiem bisa menjual 20-30 tampah yang totalnya dihargai sekitar Rp 200 ribu. Tentunya, hasil penjualan ini menjadi begitu terbatas untuk biaya hidup keluarga Pak Paekan. Padahal, begitu banyak yang perlu dibantu.

"Sebetulnya tidak bisa kalau tidak percaya pada Yang Kuasa. Tapi Insyaallah bisa. Mudah-mudahan bisa pulih seperti kemarin-kemarin" kata Radiem penuh harap.

Sahabat Baik, jangan biarkan keluarga ini merasa sendiri menghadapi hidup yang penuh cobaan. Berikan mereka semangat dan angin segar bahwa ada masa depan lebih baik. Caranya dengan mulai Donasi sekarang juga melalui link ini.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika kamu berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

Simak juga 'Melawan Lara, Penyadap Nira':

[Gambas:Video 20detik]



(kny/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT