ADVERTISEMENT

Analisis Pakar soal Intrik Politik di Balik BUMN Tak Sponsori Formula E

Mochamad Zhacky - detikNews
Jumat, 03 Jun 2022 14:55 WIB
Tim pebalap Formula E memeriksa area lintasan di Jakarta International E-Prix Circuit, Ancol. Hal itu sebagai persiapan jelang balapan yang akan digelar besok.
Sirkuit Formula E Ancol, Jakarta Utara (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Tak adanya satu BUMN pun yang mensponsori gelaran balap Formula E Ancol, Jakarta, memantik polemik. Nihilnya BUMN memberi sponsor untuk gelaran balap mobil listrik itu dinilai sebagai intrik politik.

Analisis Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs Ahmad Khoirul Umam menyebutkan, ketiadaan BUMN mensponsori balapan Formula E menunjukkan pertarungan politik sedang terjadi. Terlebih, kementerian yang terkait dengan kepariwisataan juga dikabarkan tak memberikan dukungan.

"Sangat terbatasnya dukungan pemerintah pusat terhadap pelaksanaan Formula E, yang diprakarsai pemda DKI Jakarta, menunjukkan bahwa kebijakan alokasi sumber daya negara sudah menjadi medan pertarungan politik," kata Khoirul Umam saat berbincang via WhatsApp, Jumat (3/6/2022).

"Bukan hanya Kementerian BUMN, bantuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang kini dijabat oleh Sandiaga Uno, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, juga dikabarkan tidak turun," imbuhnya.

Khoirul Umam melihat nihilnya dukungan BUMN ini seolah didesain oleh kekuatan besar politik tertentu. Di mana tujuannya ekstremnya membuat penyelenggaraan Formula E tak optimal, atau bukan tak mungkin gagal.

"Sikap diam sejumlah kementerian dan BUMN ini seolah diorkestrasi oleh kekuatan besar politik tertentu, yang menghendaki ketidakberhasilan atau tidak optimalnya penyelenggaraan Formula E ini," sebut Khoirul Umam yang juga Dosen di Universitas Paramadina ini.

Lalu pertarungan politik apa yang mengumpat di balik balapan Formula E? Tak lain dan tak bukan terkait Pilpres 2024.

Analisis Khoirul Umam, keberhasilan gelaran balap Formula E bakal berefek positif terhadap elektabilitas kandidat capres 2024. Tentu, kandidat capres yang bakal menikmatinya adalah Gubernur DKI Anies Baswedan.

"Seolah ada ketakutan besar bahwa keberhasilan Formula E akan memberikan efek boosting elektabilitas terhadap figur capres potensial tertentu, yang dirasa tiak sesuai dengan selera elite politik di jantung kekuasaan saat ini," terangnya.

Lebih lanjut Umam membandingkan sikap sejumlah kementerian dan BUMN terhadap program Formula E Ancol dengan program Pemerintah Kota Surakarta. Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina itu melihat kementerian dan BUMN begitu cepat mendistribusikan bantuan jika yang membutuhkan adalah pemerintah yang dipimpin putra sulung Presiden Jokowi itu.

"Sikap sejumlah kementerian dan BUMN ini tampak sangat berbeda jika dibandingkan dengan langkah-langkah cepat mereka dalam mendistribusikan bantuan, dan memberikan dukungan untuk berbagai kegiatan, program pembangunan, hingga berbagai jenis bantuan sosial ke Pemerintah Kota Surakarta misalnya," papar Umam.

"Seolah-olah ada perlombaan untuk 'mengambil hati' Presiden Jokowi, mengingat Wali Kota Surakarta saat ini adalah putra Presiden," imbuhnya.

Simak video 'Reaksi Anies-Erick Thohir Ditanya soal BUMN Tak Sponsori Formula E':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT