ADVERTISEMENT

KKP Akan Manfaatkan Laut Natuna & Natuna Utara Sesuai Ekonomi Biru

Jihaan Khoirunnisa - detikNews
Selasa, 31 Mei 2022 17:20 WIB
Talk Show KKP
Foto: KKP
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengimbau pelaku usaha agar segera mengajukan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) sebagai salah satu syarat pemanfaatan ruang laut secara legal dan berkelanjutan. Hal ini menyusul terbitnya Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2022 tentang Rencana Zonasi Kawasan Antarwilayah (RZ KAW) Laut Natuna-Natuna Utara.

Diketahui, aturan RZ KAW merupakan prasyarat penerbitan izin berusaha di ruang laut berupa PKKPRL oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Tanpa adanya rencana zonasi, maka prasyarat perizinan usaha KKPRL tidak bisa diterbitkan dan kegiatan usaha tidak bisa dilakukan.

"Penetapan Perpres ini merupakan momentum yang amat penting, mengingat di masa pascapandemi pemerintah tengah mendorong investasi untuk mengembalikan kondisi perekonomian nasional melalui percepatan kegiatan investasi di sektor kelautan dan perikanan tanpa mengabaikan faktor ekologi," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Victor Gustaaf Manoppo dalam keterangan tertulis, Selasa (31/5/2022).

Dalam talkshow Bincang Bahari KKP yang berlangsung secara hybrid di Jakarta, Victor memaparkan potensi ekonomi yang ada di antaranya dari kegiatan perikanan tangkap dan budidaya, pemasangan kabel telekomunikasi dan pipa bawah laut, eksplorasi migas, wisata bahari, hingga jalur pelayaran kapal lintas antarnegara. Selain itu, di wilayah Laut Natuna-Natuna Utara juga terdapat wilayah konservasi.

"Pelaku usaha pipa kabel, wisata bahari maupun itu perikanan offshore dan lainnya, segera saja mencari informasi yang lebih lengkap lagi untuk segera mengajukan PKKPRL sehingga nanti bisa cepat mendapatkan lokasi yang ada di situ. Sehingga pemanfaatan ruang laut itu bisa legal," kata Direktur Perencanaan Ruang Laut Ditjen PRL Suharyanto.

Suharyanto menambahkan kehadiran Perpres RZ KAW akan membuat kegiatan ekonomi di Laut Natuna-Natuna Utara menjadi lebih tertata. Menurutnya aturan tersebut mencegah tumpang tindih area yang dapat mengganggu jalannya operasional usaha antara yang satu dengan lainnya.

Pengaturan dilakukan juga untuk memastikan kegiatan ekonomi dan kelestarian ekosistem berjalan berkelanjutan sesuai prinsip ekonomi biru.

"Dengan adanya Perpres ini, apakah itu alur kabel, migas, dan kegiatan lainnya, bisa dipercepat proses (PKKPRL)-nya karena sudah ada dasar ruangnya di mana, yang sudah diatur sedemikian rupa dan dipastikan tidak mengganggu satu sama lain," tambahnya.

Sementara itu, Asopssurta Danpushidrosal Laksamana Pertama TNI Dyan Primana Sobaruddin mengungkapkan adanya potensi ekonomi besar di Laut Natuna-Natuna Utara. Untuk alur pelayaran misalnya, lanjut dia, perairan Natuna dan Natuna Utara selama ini sangat padat karena dilewati oleh kapal-kapal dari Asia Timur maupun Pasifik. Begitu pula dengan kabel telekomunikasi dan pipa bawah laut di Laut Natuna-Natuna Utara yang banyak.

Dia memastikan Perpres RZ KAW tidak akan mengganggu mata pencaharian nelayan. Sebaliknya, pengaturan zonasi justru membuat nelayan lebih mudah dalam mencari ikan karena lokasi yang ditetapkan telah melalui kajian, baik dari aspek keselamatan maupun jumlah potensi sumber daya perikanan yang ada di ruang laut.

"Justru dengan ditetapkannya kawasan zonasi Laut Natuna-Natuna Utara membantu nelayan tradisional. Jadi mengambil ikan di lokasi yang telah ditetapkan, tidak di lokasi yang kabel pipa bawah laut, bukan di wilayah konservasi, maupun di area migas. Kalau tidak ditentukan bisa membahayakan diri dan juga lingkungan lain. Kalau kabel putus, komunikasi putus tentu daerah itu terisolir, ekonomi juga akan terhambat karena semua sudah menggunakan elektronik," ungkap Dyan.

Di sisi lain, Direktur Wilayah Pertahanan Ditjen Strategi Pertahanan Kemhan Laksamana Pertama TNI Idham Faca mengatakan terbitnya Perpres RZ KAW Laut Natuna-Natuna Utara tidak hanya berimbas pada optimalisasi potensi ekonomi, melainkan juga penguatan aspek pertahanan dan keamanan. Ia menilai pengembangan pertahanan di kawasan tersebut salah satunya dengan menambah kekuatan TNI, pembangunan Satuan Tempur Terintegrasi TNI Natuna serta Perkuatan Kogabwilhan I.

"Jadi ekonomi tetap jalan, pertahanan juga tetap jalan," jelasnya.

Sementara itu Pakar Kelautan dan Ilmu Perikanan IPB Prof. Dietriech G. Bengen berharap terbitnya Perpres RZ KAW Laut Natuna-Natuna Utara membawa dampak positif pada keberlanjutan ekosistem laut, dan di sisi lain membawa peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Sebagaimana diketahui luas kawasan Laut Natuna-Natuna Utara mencapai 628.300,5 km2, yang mencakup 6 provinsi dan 30 kabupaten/kota. Perairan ini juga meliputi kawasan konservasi dan menjadi lokasi migrasi sejumlah biota laut seperti penyu, tuna, serta mamalia laut lainnya.

"Kita harapkan saat implementasi dapat mendukung kelautan dan perikanan dengan berprinsip keberlanjutan, yaitu keberlanjutan sumber daya alam serta prinsip partisipasi keterlibatan masyarakat lokal dan pihak terkait untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di sana," katanya.

Terbitnya Perpres RZ KAW ini juga mendapat respons positif dari Vice President Network PT Biznet Agus Arianto. Dia mengatakan dengan adanya aturan tersebut, pemasangan kabel laut memiliki kekuatan hukum tetap dan lebih terarah.

Pihaknya bahkan berencana melakukan gelaran kabel laut segmen Anyer-Kalianda dan Sungsang dan Muntok. Selanjutnya melakukan penggelaran kabel laut dari Sungai Liat sampai ke Sungai Kakap.

"Kenapa kami berencana seperti itu, karena kami akan membuat konektivitas baru ke arah Kalimantan. Karena saat ini kami masih fokus di Jawa. Tahun ini kami ekspansi ke Sumatera dan selanjutnya kita akan melakukan ekspansi ke arah Kalimantan," terangnya.

Senada, Manager Mature Fields Asset Department Offshore Asset Medco Natuna Amrullah Hakim juga menyambut baik terbitnya Perpres RZ KAW Laut Natuna-Natuna Utara. Ia menilai aturan tersebut tidak hanya baik untuk pertahanan keamanan, tapi juga untuk ketahanan energi di dalam negeri.

"Kami melihat Perpres ini bagus untuk pertahanan dan ketahanan kita. Kita juga mesti ingat migas ini juga ada hubungannya dengan ketahanan energi. Saat ini isu energi ini sedang marak sebagai akibat dari perang Rusia dan Ukraina. Minyak jadi langka. Jadi kita perlu untuk berusaha bersama-sama juga agar kita memiliki ketahanan energi yang bagus," tandasnya.

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT