Cegah Radikalisme pada Pelajar, Pangdam Jaya Bentuk Army Go to School

Mulia Budi - detikNews
Rabu, 25 Mei 2022 13:14 WIB
Pangdam Jaya Mayjen Untung Budiharto
Mayjen Untung Budiharto (Mulia Budi/detikcom)
Jakarta -

Pangdam Jaya Mayjen Untung Budiharto membentuk program Army Go to School untuk mengedukasi milenial tentang wawasan nasionalisme. Hal itu dilakukan untuk mencegah masuknya paham radikalisme kepada anak muda.

Untung mengatakan Komandan Distrik Militer (Dandim) bertugas dalam program tersebut. Para Dandim bakal mendatangi sekolah-sekolah agar generasi muda tidak terpengaruh paham radikal.

"Para Dandim juga punya tugas Army Go to School untuk meyakinkan generasi muda memiliki nasionalisme dan kesadaran bela negara agar generasi muda kita tidak tersusupi oleh paham-paham selain Pancasila," kata Pangdam Jaya Mayjen Untung Budiharto kepada wartawan di Markas Kodam Jaya, Jakarta Timur, Rabu (25/5/2022).

Dia mengatakan program Army Go to School merupakan salah satu upaya mempersiapkan generasi muda untuk mampu menjaga eksistensi bangsa. Dia mengatakan program tersebut baru dibentuk 2 bulan yang lalu.

"Seluruh Kodim saat ini para Dandim para Danrem turun ke sekolah untuk menyampaikan wawasan kebangsaan agar itu tertanam pada generasi muda yang kita siapkan untuk memegang kendali atau mewarisi negara ini ke depan. Sehingga basic akan ideologis mereka akan mampu melaksanakan tugas-tugas mereka menjaga NKRI di masa yang akan datang," tuturnya.

Untung tidak menyebut berapa sekolah yang telah didatangi melalui program Army Go to School. Dia mengatakan dirinya pun turut turun langsung dalam pelaksanaan program tersebut.

"Jumlahnya saya kira saya tidak begitu ini, tapi seluruh Kodim, saya sendiri sudah beberapa kali dan Dandim-dandim saat ini konsepnya adalah Army Go to School. (Dibentuk sejak) 2 bulan yang lalu seluruh sekolah," ujarnya.

Untung mengatakan program Army Go to School ditujukan untuk sekolah jenjang SMA. Menurutnya, usia anak SMA merupakan usia emas untuk diberi edukasi.

"Kita masuk ke SMA karena saya yakin SMA itu masih pada golden age umur-umur keemasan sehingga momen itu yang kita gunakan untuk mengisi mereka tentang bela negara," ujarnya.

"Kita lihat bagaimana di dunia maya kecintaan para milenial apabila dia mendapat-mendapat sesuatu yang respons dari negara lain, bagaimana sikap mereka untuk melawannya kita bisa lihat. Artinya kita tinggal bagaimana mengkapitalisasi rekan-rekan 'generasi Z' itu melalui media yang kita miliki," lanjutnya.

Simak berita selengkapnya pada halaman berikut.