Sutiyoso Singgung soal TKA, Jubir Partai Garuda Minta Bukti

Dea Duta Aulia - detikNews
Senin, 23 Mei 2022 19:36 WIB
Partai Garuda
Foto: Partai Garuda
Jakarta -

Mantan Kepala BIN Sutiyoso dalam acara 'Silaturahmi Tokoh & Ulama DKI Jakarta' yang tayang di YouTube JIC TV 18 Mei 2022 menyinggung banyaknya tenaga kerja asing asal China yang datang ke Indonesia. Ia pun memberikan contoh sejumlah negara yang mengalami perubahan akibat terlalu banyak tenaga asing seperti Singapura dan Malaysia.

Juru bicara Partai Garuda Teddy Gusnaidi merespons pernyataan tersebut. Menurutnya, Sutiyoso harus melampirkan bukti.

"Jika mau permasalahan tenaga kerja asing, maka laporkan jika memiliki bukti pelanggaran terkait tenaga kerja asing di Indonesia. Karena tenaga kerja asing dibolehkan di dalam UU," kata Teddy Gusnaidi dalam keterangan tertulis, Senin (23/5/2022).

Menurutnya, sejumlah pihak jangan terprovokasi dengan isu tersebut dan tetap menjaga kerukunan. Sebab Indonesia lahir dari berbagai etnis dan itu yang harus dihormati.

"Indonesia itu lahir dari percampuran berbagai etnis, bahkan kebudayaan Indonesia itu lahir dari percampuran berbagai etnis. Lihat, ada percampuran India, China, Arab dan etnis bangsa lain," ujar Teddy.

Ia menerangkan akulturasi budaya yang terdapat di Indonesia menghadirkan beragam dialek di tengah masyarakat. Oleh karena itu ia menilai keberagaman perlu dijaga dengan tetap rukun.

"Begitupun dengan rupa dan dialek yang beragam, itu tidak terlepas dari percampuran," tutup Teddy.

Untuk diketahui, dalam tayangan tersebut Sutiyoso mengatakan bahwa pemerintah China mempekerjakan rakyatnya ke luar negeri agar bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka.

"Kalau saya jadi presiden Tiongkok, ngurus orang 1,4 miliar itu mau bagaimana? Ngasih makannya, ngasih papannya, ngasih sandangnya, belum sekolahnya, belum rumah sakitnya, tidak akan mampu. Maka yang paling mudah adalah eksport orang," ujar Sutiyoso dalam video tersebut.

Sutiyoso juga menyinggung soal Singapura. Dia menceritakan pengalamannya mengunjungi lebih dari 50 negara. Menurutnya, 50 negara tersebut tidak ada yang terbebas dari etnis Tionghoa.

"Yang paling deket Singapura aja. Perdana menteri pertama dulu orang Padang, orang Melayu. Sekarang nggak ada lagi orang Melayu. Lihatlah orang Malaysia sudah hampir, sudah beberapa departemen-departemen dipimpin etnis ini. Kok kita nggak sadar-sadar gitu loh kita ini. Bukan apa-apa, saya orang intelijen, Bapak Ibu sekalian, saya bisa membaca. Pegawai-pegawai itu di Kalimantan, di Sulawesi, yang sampai Papua, nggak akan dia pernah kembali ke sana pasti di sini," kata Sutiyoso.

(prf/ega)