Kasus Penyelundupan 8 Senpi di Sulut, Panglima TNI: Masih Kewenangan Polisi

Anggi Muliawati - detikNews
Senin, 23 Mei 2022 16:29 WIB
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa (Esti Widiyana/detikcom)
Jakarta -

Penyelundupan sejumlah senjata api (senpi) di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), diungkap oleh pihak kepolisian. Menanggapi hal itu, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengatakan, jika penyelundupan tersebut berhubungan dengan militer, hal itu akan dia tindak lanjuti.

"Itu masih kewenangannya dari polisi. Jadi biarkan nanti penyidik yang kemudian akan menindaklanjuti. Tapi kalau ada hubungannya dengan militer, pasti saya akan melakukan dan tindak lanjuti," kata Andika di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (23/5/2022).

Andika mengaku belum tahu perkembangan kasus tersebut. Namun ditekankan sekali lagi, TNI akan bersikap saat tindak pidana itu berkaitan dengan militer.

"Kami tidak tahu, kami berikan kesempatan pada penyidik Polri untuk mengungkap. Nanti kalau ada hubungannya dengan militer juga kita pasti akan menindaklanjuti," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan, polisi mengungkap penyelundupan 8 pucuk senjata api jenis UZI yang dikirim dari Filipina tujuan Papua melalui Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), merupakan senjata api buatan Italia. Namun soal kabar senjata itu ditujukan ke Papua masih menjadi misteri.

"Senjata api UZI Col made in Italy," demikian tertulis dalam register barang bukti polisi nomor BB/V/2022/Reskrim.

Adapun dua pelaku penyelundupan, yaitu OM (18) dan FM (22), sudah ditangkap petugas. Hanya, cara kedua pelaku mendapatkan senjata api ilegal ini di Filipina belum diungkap polisi.

"Berdasarkan informasi sementara mereka mengambil dari Filipina. Kemudian, diduga juga dibawa ke Papua," kata Kapolda Sulut Irjen Mulyatno saat jumpa pers di Polda Sulut, Jumat (20/5).

Selain 8 pucuk senjata api semi-otomatis UZI, polisi menyita 40 butir amunisi senjata api kaliber 9 mm. Namun polisi belum mengetahui apakah kedua pelaku penyelundupan memiliki sindikat di Filipina. Penyelidikan masih berlanjut.

(aud/aud)