Korban Dugaan Investasi Bodong Ngaku Rugi Rp 230 M Melapor ke Bareskrim

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Sabtu, 21 Mei 2022 15:19 WIB
Ilustrasi investasi bodong
Foto: dok. detikcom
Jakarta -

Korban dugaan investasi bodong melaporkan PT Digital Asset Development Indonesia (DADI) ke Bareskrim Polri. Kurang lebih 700 orang mengaku rugi mencapai Rp 230 miliar.

"Kalau (kerugian) dari kita kurang lebih hampir Rp 200-230 miliar. Karena kan janji ini ibaratnya kalau dikalkulasi contohnya beli Rp 10 juta dijanjikan Rp 25 juta, kan ada yang sampai nanam saham itu Rp 1 miliar, Rp 2 miliar," kata kuasa hukum para korban, Sahid, kepada wartawan, Sabtu (21/5/2022).

Laporan itu terdaftar pada nomor: STTL/139/V/2022/BARESKRIM, tanggal 20 Mei 2022. Adapun terlapor atas nama Didik Firmansah dkk, dengan dugaan melanggar Pasal 372 KUHP UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang tindak pidana penipuan/perbuatan curang.

Sahid mengatakan korban-korban tersebut tersebar di beberapa wilayah Indonesia, dari Riau hingga Surabaya. Dia menyebut ada 7.000-8.000 member yang terdaftar pada investasi ini.

"Korban yang terkumpul itu karena bermacam-macam provinsi kan, itu 700 dari perwakilan. Ada di Natuna, Pulau Riau, ada di Jawa timur, Surabaya, Jember, Pasuruan, Madura. Jawa tengah, Semarang, Kalimantan juga. Karena kalau di total semua seluruh di Indonesia itu diestimasi 7.000 sampai 8.000 member-nya," katanya.

Selanjutnya, Sahid mengatakan pihaknya telah menyerahkan bukti ke penyidik Bareskrim berupa flyer hingga brosur dari PT DADI. Dia menyebut vila hingga rumah sakit menjadi salah satu iming-iming asetnya.

"Kalau buktinya (yang diserahkan) juga udah lengkap, pertama itu bukti flyer dan foto-foto seremonial, janji-janji semacam brosur. Dan iming-iming itu kan di situ muncul kayak setiap member itu yang terkumpul uangnya akan dibentuk usaha bermacam-macam usahanya, ada villa, hotel, resor, SPBU, rumah sakit, kafe, dan macam-macam. Tapi faktanya nggak ada," katanya.

Dia menegaskan semua uang yang telah ditanamkan korbannya ke perusahaan investasi itu tidak ada sama sekali yang kembali ke tangan.

"Nggak ada sama sekali (yang balik uangnya), justru yang dijanjikan mau diperdagangkan di saham malah kepentingan pribadi. Token itu masuk ke pasaran Indodax, dijual ilegal-lah," ujarnya.

Simak juga Video: Kronologi Bos Salon Tipu Ratusan Klien Hingga Rp 7 Miliar

[Gambas:Video 20detik]



(azh/idh)