ADVERTISEMENT

24 Tahun Lengsernya Soeharto yang Lahirkan Hari Reformasi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 21 Mei 2022 09:03 WIB
Ilustrasi Soeharto
Foto: Soeharto (Edi Wahyono)
Jakarta -

Dua puluh empat tahun yang lalu, Presiden RI kedua, Soeharto lengser dari jabatannya. Lengsernya Soeharto menjadi pertanda peringatan hari reformasi.

Cerita soal lahirnya hari reformasi ini dimulai saat Soeharto menjabat Presiden kedua Indonesia sejak 1967 menggantikan Sukarno. Selama 32 tahun memimpin Indonesia, presiden yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan ini dianggap mampu menjaga stabilitas negaranya.

Kendati demikian, stabilitas yang selalu terjaga itu akhirnya goyah juga. Demonstrasi dan kerusuhan merebak di mana-mana. Dalam buku 'Sejarah Pergerakan Nasional' yang ditulis Fajriudin Muttaqin dkk, ditulis bahwa demonstrasi mahasiswa ini bermula lantaran krisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada 1998. Reformasi terus disuarakan.

Krisis Ekonomi

Kegoyahan ekonomi ini adalah bagian dari akibat krisis finansial di kawasan Asia. Krisis ini membuat kepercayaan masyarakat merosot. Soeharto sudah dianggap tidak mampu lagi mengatasi krisis berkepanjangan ini. Reformasi adalah jalan yang dituntut masyarakat.

Mahasiswa pun menuntut Soeharto agar lekas turun dari tampuk kekuasaan. Namun Soeharto tetap pada pendiriannya untuk melakukan reformasi usai tahun 2003. Protes para mahasiswa pun makin tak terbendung lantaran reformasi tak kunjung terlaksana. Aksi demonstrasi bermunculan kembali di sejumlah daerah. Seperti di antaranya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Ujungpandang, dan daerah lain.

Kemudian dampak dari peristiwa demonstrasi pun semakin membara. Apalagi setelah disiram oleh kenaikan harga bensin, yang mana dari harga Rp 700 menjadi Rp 1.200. Meledaklah peristiwa 12 Mei, yang dikenal dengan 'Tragedi Trisakti'. Kekacauan pecah saat mahasiswa Trisakti dihalangi saat hendak menuju gedung DPR. Tanggal 12 Mei menjadi salah satu lahirnya hari reformasi.

Aparat keamanan akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan. Namun tembakan itu bukan peluru karet, melainkan peluru besi. Mahasiswa pun kocar-kacir pergi menyelamatkan diri, sebagian bahkan ada yang berlindung di gedung kampus Trisakti. Namun tembakan itu justru mengenai beberapa mahasiswa. Hingga akhirnya empat mahasiswa gugur dalam peristiwa ini. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Sedangkan mahasiswa lainnya mengalami luka-luka dan dibawa ke RS Sumber Waras.

Lantas, bagaimana proses lahirnya reformasi? Silakan baca di halaman selanjutnya.

Lihat juga Video: Aktivis '98 Bicara Demokrasi Kita

[Gambas:Video 20detik]






ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT