Hakim MK Arief Hidayat Wanti-wanti Penyebaran Radikalisme Melalui Medsos

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 20 Mei 2022 09:57 WIB
Fanatisme Penggemar K-Pop di Media Sosial Twitter
Ilustrasi media sosial (detik).
Jakarta -

Hakim konstitusi, Arief Hidayat menyatakan kemajuan teknologi dan zaman tidak bisa dibendung. Namun hal itu tidak selamanya berdampak positif, tetapi dampak negatif juga sangat membahayakan bangsa termasuk menyebarnya radikalisme.

"Dari sisi terminologi dan pengaruh yang baik, kita memahami bahwa media sosial merupakan sarana interaksi sosial modern yang efektif, cepat, egaliter, dan mendukung politik partisipatif. Bahkan dalam perkembangan aktual, interaksi dan komunikasi yang dibentuk oleh media sosial telah menjadi kekuatan kontrol baru terhadap negara dengan segenap aktifitas dan kebijakannya," kata Arif Hidayat.

Hal itu disampaikan saat berbicara dalam rangkaian kegiatan Simposium Nasional-Konferensi Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara di Bali, Rabu (17-21/5/2022).

"Namun pada sisi yang lain, dalam terminologi yang buruk atau negatif, media sosial menyimpan potensi dan problem ancaman yang sangat serius bagi peri kehidupan kita dalam bernegara manakala digunakan dengan penuh nafsu, ambisi, amarah, apalagi ditambah jika digunakan minus tanggung jawab," papar Arief Hidayat.

Dalam terminologi dan pengaruh buruk ini, media sosial telah menimbulkan persoalan salah satunya berupa semakin lemahnya kohesifitas kita sebagai sesama warga bangsa. Media sosial justru mengkotak-kotakkan kita pada pandangan dan pemahaman tertentu yang saling bertentangan secara diametral.

"Semua orang berpendapat dengan merasa paling tahu, paling paham, dan dan paling benar dalam satu isu sembari meremehkan akurasi analis para pakar. Semburan dusta (firehose of falsehood) disertai glorifikasi kebencian kepada siapapun yang dianggap di luar kelompoknya, di luar golongannya atau dalam istilah Jawa disebut 'liyan', menggejala di mana-mana," beber Arief Hidayat yang juga Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

Saat ini akhirnya masuk dalam fenomena the death of truth dan era post truth Di media sosial, kebohongan menyamar menjadi kebenaran. Kebenaran itu mati karena pada akhirnya kebenaran lebih ditentukan oleh arus besar dan kuat, emosi, serta keyakinan irasional personal.

"Era post truth telah ternyata memproduksi tatanan khayalan yang tidak berjangkar pada dunia obyektif, semu belaka. Itu karena filsafat yang dipegang: segalanya bisa dikonstruksi atau di-framing media, bahkan dimanipulasi. Isu-isu publik murah, gampang, dan sangat sering sekali diwacanakan secara sembarangan," urai Arief Hidayat.

Tantangan yang harus diwaspadai yaitu penetrasi ideologi tandingan seperti liberalisme, pragmatisme, komunisme, radikalisme, dan intoleransi.

"Radikalisme agama misalnya, baik puritanisme maupun yang bermotif ideologis, sama-sama menjadi tantangan. Ideologi tandingan ini terus merangsek dengan cepat melalui media sosial dan jalur-jalur lainnya," bebernya.

Lihat juga video 'KemenPAN RB Temukan 27 ASN Lakukan Tindakan Radikalisme di Medsos':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/aik)