Polisi Ungkap Bullying ABG Tangsel yang Disundut Rokok Dipicu Game Online

Khairul Ma'arif - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 14:56 WIB
Ilustrasi bullying
Ilustrasi Bullying (Thinkstock)
Tangerang Selatan -

Polisi mengungkap motif bullying ABG berinisial J (16) yang disundut rokok di Serpong, Tangerang Selatan. Polisi mengungkapkan aksi bullying ini terjadi dipicu game online.

Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Aldo Primananda Putra mengatakan kronologi awal kejadian saat korban bersama para terduga pelaku yang juga anak di bawah umur itu hendak begadang. Para terduga pelaku juga merupakan teman bermain di satu kawasan yang saling bertetangga.

"Saat begadang mereka bermain game online secara tim. Kemudian tim itu kalah yang diduga akibat kesalahan dari korban," ujar Aldo kepada wartawan, Kamis (19/5/2022).

Aldo mengungkapkan, akibat dari kekalahan tim ini, korban jadi pelampiasan teman-temannya. Tidak hanya disundut rokok, korban yang fobia terhadap pepaya juga ditakut-takuti dengan buah pepaya.

"Korban disundut oleh rokok di lidahnya hingga mati untuk abu rokoknya di dalam lidah. Kemudian, korban juga yang diketahui fobia terhadap buah ditakut-takuti dengan buah pepaya yang ada di TKP juga," tambahnya.

"Kemudian, korban juga ditempel dengan menggunakan obeng yang sudah dipanaskan oleh para pelaku anak ini," ucapnya.

4 Terduga Pelaku Dimintai Keterangan

Diketahui, Satreskrim Polres Tangsel sudah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. Ada 8 pelaku yang masih anak-anak atas kejadian ini, tetapi yang sudah diperiksa sebanyak empat orang.

"Kita berkoordinasi dengan RT setempat dengan orang tua yang sudah dikumpulkan kemudian datang ke Polres Tangsel kemudian kita lakukan klarifikasi dengan pendampingan para orang tua. Kita ambil keterangan dan menceritakan kejadian pada saat di TKP," ungkap Aldo.

Ia menambahkan, terkait kabar yang beredar bahwa korban seorang disabilitas itu tidak benar. Menurutnya, korban merupakan anak di bawah umur usia 16 tahun yang bersekolah di salah satu SMP di Tangsel.

"Saat ini kondisi kesehatan korban stabil kita sudah melakukan pendampingan untuk pemeriksaan psikologi dengan P2TP2A untuk melakukan penanganan psikologi agar tidak mengalami trauma," tuturnya.

(mea/fjp)