Perspektif

Singapura Tolak UAS, Islamofobia atau Upaya Survival?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 14:43 WIB
Ustad Abdul Somad (UAS) memberikan tausyiah pada tabligh akbar di Pondok Pesantren Serambi Aceh Desa Meunasah Rayeuk, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Jumat (8/3/2019). Tabligh Akbar yang dihadiri ribuan umat muslim dari berbagai daerah tersebut dalam rangka safari dakwah UAS ke beberapa Kabupaten/Kota di Aceh. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/ama.
Ustaz Abdul Somad atau UAS (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta - Singapura menolak Ustaz Abdul Somad (UAS). Sikap Singapura ini dinilai sebagai bentuk islamofobia. Namun benarkah demikian?

Pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, menjelaskan posisi Singapura sebagai negara kecil yang dikelilingi negara-negara besar, seperti Indonesia dan Malaysia. Singapura merasa harus selalu waspada dan menjalankan mekanisme pertahanan hidup (survival) bila ingin negaranya ini aman dari bahaya apa pun. Akibatnya, negara ini seolah-olah menjadi sangat berhati-hati.

"Ada dua perspektif. Pertama, ini dipandang sebagai bentuk islamofobia. Tapi ada perspektif lain yang melihat ini sebagai masalah kedaulatan. Negara itu memang didesain dari awal sebagai negara yang fokus pada survival. Negara yang kecil di tengah negara-negara besar itu menjadi concern para pemimpin Singapura," kata Riza membagikan perspektifnya kepada detikcom, Kamis (19/5/2022).

Bendera Singapura sendiri, menurut tafsiran Riza, mencerminkan kompromi Singapura terhadap tetangga-tetangganya. Bendera Singapura berwarna merah dan putih seperti bendera Indonesia namun ada gambar bulan sabit dan bintang seperti bendera Malaysia. Pemimpin Singapura sadar betul posisi geopolitik negaranya.

bendera SingapuraBendera Singapura (Sumber: Internet)

Di dalam negeri, Singapura punya komposisi demografi etnis China sebagai mayoritas, Melayu yang notabene lekat dengan identitas Islam, dan India. Dengan kondisi yang relatif rentan terhadap pemantik ketidakstabilan, Singapura menjaga dirinya sendiri. Penolakan kedatangan UAS menjadi salah satu bentuknya.

"Apa yang dilakukan terhadap UAS bisa dipahami sebagai upaya survival," kata Riza.

Namun Riza memandang penolakan Singapura terhadap UAS merupakan perlakuan yang keterlaluan. Soalnya, Singapura modern saat ini sudah tidak lagi serentan zaman dulu, era Perdana Menteri Lee Kwan Yew pada 1960-an. Jadi Singapura sebenarnya tak perlu terlalu khawatir dengan 'segregasi sosial' akibat kedatangan UAS.

"Pada masa itu (era awal Lee Kwan Yew) secara ekonomi ada segregasi dan pengaruhnya besar terhadap segregasi kultural. Namun konteks saat ini sudah berbeda. Tidak ada alasan untuk mencurigai pihak-pihak lain yang bisa memecah belah masyarakat, karena ekonomi masyarakat Singapura sudah naik semua baik etnis China, Melayu, maupun India," kata Riza.

Segregasi masyarakat secara kultural (termasuk agama) diakibatkan oleh segregasi ekonomi. Bila masalah ekonomi sudah teratasi maka masalah-masalah kultural bakal aman dan tenteram. Kekhawatiran terhadap ekstremisme yang menghinggapi Singapura dinilai Riza sebagai ekses dari paradigma global yang disponsori Amerika Serikat (AS) pascatragedi 11 September 2001. Momentum itulah yang kemudian turut mendiseminasi pandangan soal Islam. Lantas, islamofobia seolah tidak bisa terelakkan. Padahal, kenyataannya, konteks sosio-politik Singapura berbeda dengan AS.

"Kekhawatiran ekstremisme mungkin juga berlebihan untuk konteks Singapura. Singapura punya mitigasi yang bagus dan imigrasi yang ketat, namun perlu dilakukan case by case. Untuk menangani high figure seperti UAS, seharusnya jangan sampai mengganggu hubungan yang sudah baik dan solidaritas di kawasan," kata Riza.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah sudah memprediksi Singapura bakal kena cap islamofobia lantaran menolak UAS. Soalnya, UAS adalah tokoh agama Islam yang punya banyak pendukung, meski UAS juga pernah ditolak di Hong Kong dan Timor Leste di tahun sebelumnya. Kali ini, Singapura, yang punya kedekatan dengan masyarakat Melayu Asia Tenggara, menolak UAS.

"Sebenarnya kejadian ini merugikan pihak Singapura sendiri. Dari kalangan masyarakat Islam di ASEAN, dapat terkesan pemerintah Singapura memiliki sikap islamophobia, yang bertentangan dengan ide-ide Islam yang rahmatan lil alamin. Karena UAS adalah ulama karismatik, yang memiliki kualifikasi internasional, bergelar S3, serta tergolong kritis dan moderat," kata Rezasyah.

Cap Islamofobia

Narasi bahwa Singapura mengidap islamofobia terucap dari politikus nasional Indonesia. Ada Fadli Zon dari Partai Gerindra yang menilai Singapura demikian. Fadli Zon menegaskan UAS sebagai ulama terkemuka dan tidak berhak 'dilecehkan' Singapura.

"Sikap Singapura yang menghakimi sepihak menunjukkan negara itu tak menghormati hubungan bertetangga baik. Orang bisa berpandangan bahwa Singapura terpapar islamofobia, bahkan rasis," kata Fadli Zon kepada wartawan, Rabu (18/5) kemarin.

Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon, akhirnya muncul kembali di media sosial (medsos) usai dua pekan 'menghilang'. Fadli Zon muncul di medsos mengungkap kerjanya sedang berada di Eropa sebagai delegasi DPR.Fadli Zon (Dok. Twitter @fadlizon)

Fahri Hamzah dari Partai Gelora juga sebal dengan Singapura. Dia bahkan menyamakan Singapura dengan kotoran hidung. PAN juga memberi cap islamofobia ke Singapura.

"Tidak dibenarkan menurut saya sikap Singapura seperti itu, karena banyak orang yang merasa tersinggung atau tidak sependapat dengan Singapura," kata Wakil Ketua Umum PAN Yandri Susanto.

"Saya melihat Singapura sangat islamophobia," imbuhnya.

Singapura Menolak Islamofobia

Singapura bukan pertama kali ini menolak tokoh agama karena dianggap tidak baik bagi negaranya. Negeri jiran di seberang Batam itu juga pernah menolak tokoh agama selain Islam untuk masuk ke negaranya.

Dilansir situs Kementerian Dalam Negeri Singapura, Menteri Dalam Negeri Singapura K Shanmugam pernah menjelaskan bahwa islamofobia justru tidak baik bagi Singapura. Negara itu justru menghindari sikap islamofobia. Islamofobia juga belum menjadi masalah yang mewujud dalam bentuk kekerasan dari nonmuslim ke muslim di Singapura, sebagai reaksi atas peristiwa-peristiwa teror di negara lain.

"Islamofobia akan merusak masyarakat multiras dan multiagama di Singapura," demikian tulis Kementerian Dalam Negeri Singapura dari unggahan tahun 2016. Ada sekitar 15 persen penduduk Singapura yang beragama Islam.

Menteri Hukum dan Urusan Dalam Negeri Singapura, K Shanmugam (theindependent.sg)Menteri Urusan Dalam Negeri Singapura, K Shanmugam (theindependent.sg)

Soal penolakan terhadap UAS, Kemendagri Singapura merilis pernyataan pers di situs resminya, Selasa (17/5) kemarin. Intinya, UAS tidak baik untuk kepentingan kesatuan warga Singapura. Termasuk, UAS dinilai pernah berkhotbah menjustifikasi bom bunuh diri di konflik Israel-Palestina.

Kemendagri Singapura merilis pernyataan pers di situs resminya, Selasa (17/5/2022). Intinya, UAS tidak baik untuk kepentingan kesatuan warga Singapura. Termasuk UAS dinilai pernah berkhotbah menjustifikasi bom bunuh diri di konflik Israel-Palestina.

Simak Video: Singapura Tolak UAS, Anggota Komisi 1 DPR: Bentuk Kedaulatan Negara

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)