PAN Kritik MUI soal Salat Jemaah Tak Perlu Pakai Masker bagi yang Sehat

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 08:45 WIB
Umat Islam melaksanakan ibadah salat Tarawih malam pertama tanpa pembatasan jarak di Masjid Islamic, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/4/2020) malam. Kendati pemerintah setenpat telah mengeluarkan instruksi pengaturan shaf posisi jarak jamaah ke kiri dan kanan sejauh 50 cm dan shaf depan dan belakang sejauh 140 cm dan mewajibkan pakai masker serta mencuci tangan sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, tapi pelaksanaan tarawih tanpa physical distancing tetap berlangsung. ANTARA FOTO/Rahmad/aww.
Ilustrasi Salat Berjemaah (ANTARA FOTO/RAHMAD)
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan salat berjemaah di masjid tidak perlu lagi memakai masker. Partai Amanat Nasional (PAN) mengkritik pernyataan MUI karena tidak sesuai dengan kaidah pelonggaran protokol kesehatan negara bahwa masyarakat tetap wajib mengenakan masker di dalam ruangan.

"Saya sangat menyayangkan pernyataan Asrorun Niam Sholeh tentang salat berjemaah tanpa masker. Itu pernyataan yang kebablasan. Presiden saja baru mengizinkan membuka masker di ruang outdoor, bukan ruang indoor. Masjid adalah ruang indoor," kata Ketua Dewan Pakar PAN, Drajad Wibowo, dalam keterangan tertulis, Rabu (19/5/2022).

Asrorun Niam adalah Ketua MUI Bidang Fatwa yang menyampaikan bahwa salat berjemaah di masjid tidak perlu lagi memakai masker bagi yang sehat. Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pelonggaran kebijakan pemakaian masker ini diterapkan untuk aktivitas di luar ruangan, bukan di dalam ruangan.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo dan Waketum PAN Hanafi Rais menggelar jumpa pers terkait kepemilikan lahan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/3/2018). Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo menggunakan data dari Megawati Institute soal ketimpangan kepemilikan lahan di Indonesia. Ia menyebut berdasarkan data itu ketimpangan kepemilikan lahan di Indonesia tinggi.Dradjad Wibowo (Lamhot Aritonang/detikcom)

Drajad menjelaskan, Islam mengajarkan sunnatullah atau ketetapan-ketetapan Allah termasuk hukum-hukum alam yang menjadi dasar sains. Secara sunnatullah pula, COVID-19 menular melalui droplet dan pemakaian masker mengurangi risiko penularan secara signifikan. Presiden Jokowi juga masih sangat hati-hat melonggarkan kewajiban memakai masker.

"Jika Asrorun melonggarkan kewajiban masker dalam salat berjemaah, sains dan data apa yang dia pakai sebagai dasar? Ini keputusan MUI sebagai lembaga atau dia pribadi? Bagaimana jika ada jamaah yang tertular COVID-19 dan meninggal karena ada DKM yang mengikuti Asrorun membebaskan jamaah tanpa masker?" ujar Drajad.

Dia mengingatkan MUI sebagai lembaga yang bersifat memimpin umat. Keselamatan masyarakat yang dipimpin harus diutamakan. Nyawa tiap jamaah salat juga harus dijaga, apalagi menyangkut kesehatan masyarakat di era COVID-19 ini.

Sebelumnya, MUI mengeluarkan panduan penggunaan masker untuk salat berjemaah. Masker tidak perlu lagi dikenakan oleh jamaah yang sehat. Masjid juga diimbau menggunakan karpet dan sajadah untuk salat. Namun, masyarakat diminta agar tetap menerapkan protokol kesehatan karena penularan COVID-19 belum berakhir sepenuhnya.

Asrorun NiamAsrorun Niam (Foto: dok. Istimewa)

"Seiring dengan pelonggaran protokol kesehatan yang kembali ditetapkan pemerintah, maka pelaksanaan salat bagi masyarakat muslim yang sehat sudah tidak memakai masker lagi. Dan usai salat, jika berada di ruang publik, perlu menyesuaikan," kata Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan pers, Selasa (17/5).

Simak juga video 'Beragam Respons Masyarakat Soal Kebijakan Lepas Masker':

[Gambas:Video 20detik]

(dnu/gbr)