Yasonna Bicara Ilmuwan Terjebak Unsur Politis: Kalau Mau Politik, Masuk DPR

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 18 Mei 2022 17:13 WIB
Menkumham Yasonna Laoly dalam simposium yang digelar APHTN-HAN-Kemenkumham, di Nusa Dua, Bali, Rabu (18/5/2022).
Foto: Menkumham Yasonna Laoly. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly meminta para ilmuwan yang berpikir terjebak unsur politik lebih baik masuk DPR. Yasonna mencontohkan dirinya sendiri yang berangkat dari akademisi lalu menjadi politikus PDIP dan duduk di DPR RI.

Yasonna menyoroti para akademisi yang berpendapat di publik tapi tidak murni analisa ilmiah. Namun sudah dipenuhi sikap politik.

"Kita kadang terjebak unsur-unsur politisnya. Sebagai ilmuwan, kita dalam mengambil sikap dan berpikir harus jernih. Kalau mau politik, masuk politik, DPR," kata Yasonna.

Hal itu disampaikan dalam 'Simposium Nasional Hukum Tata Negara: Penguatan Fungsi Kemenkumham dalam Memberikan Perlindungan dan Kepastian Hukum Melalui Layanan Ketatanegaraan'. Simposium ini digelar oleh Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN)-Kemenkumham di Nusa Dua, Bali, Rabu (18/5/2022).

Menurut Yasonna, kalau akademisi itu punya kelemahan yaitu punya power tapi tidak punya point. Sedangkan politisi punya power tapi tidak punya point.

"Kalau akademisi yang politisi itu punya power juga punya point. Untungnya saya dan Prof Mahfud itu akademisi dan politisi. Punya power punya point," ucap Yasonna yang juga Ketua Mahkamah Partai PDIP.

Oleh sebab itu, Yasonna mendukung para dosen hukum tata negara dan dosen hukum administrasi negara untuk bergabung di APHTN-HAN. Sebab bisa membawa suasana ilmiah dalam mengkaji setiap masalah.

"Keberadaan APHTN-HAN merupakan hal positif yang saya yakin mampu mendukung sistem hukum nasional. Di mana Kemenkumham memiliki peran sentral, seperti fungsi regulasi, pembentukan perundang-undangan di Kemenkumham," tutur Yasonna.

Hal senada disampaikan Ketua Dewan Pembina APHTN-HAN, Mahfud MD.

"Kedua, jangan salah melakukan analisis hukum. Biasanya setelah memiliki pandangan politis, jadi salah analisisnya. Seperti agama ada yang lembut ada, keras ada. Hukum juga begitu, tinggal hati nurani," ucap Mahfud MD di tempat yang sama.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.