Bukan Nikuba, Ini Temuan BRIN yang Bisa 'Sulap' Air Jadi Pengganti BBM!

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 17 Mei 2022 18:10 WIB
Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)
Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)
Jakarta -

Belakangan, alat bernama Nikuba 'made in Cirebon' membetot perhatian publik karena diklaim mampu mengubah air menjadi bahan bakar mesin kendaraan bermotor. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga penelitian punya negara, juga punya karya yang mampu 'menyulap' air menjadi pengganti bahan bakar minyak.

Nama alat temuan BRIN ini adalah sel tunam atau fuel cell yang dikembangkan oleh Profesor Eniya Listiani Dewi. Dia sudah menyeriusi penelitian sel tunam ini sejak 2003. Eni menegaskan ini bukan suplemen untuk bahan bakar minyak, melainkan dapat mengganti bahan bakar minyak secara total.

"Total. Boleh dilihat dan dibongkar," kata Eni kepada detikcom, Selasa (17/5/2022).

Proses 'menyulap' air menjadi bahan bakar bukanlah bak sihir tentu saja, melainkan lewat proses elektrolisis, yakni memisahkan hidrogen dan oksigen dari H2O. Platina digunakan sebagai katalis alat ini. Selanjutnya, hidrogen yang telah dimasukkan ke tabung dapat digunakan sebagai penggerak motor, bisa untuk sepeda motor atau mobil.

"Ini tanpa ada pembakaran sama sekali. Produk sampingannya adalah air lewat proses elektrokimia," kata dia.

Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)

Keunggulan hidrogen ketimbang bahan bakar biasa, hidrogen lebih ramah lingkungan. Bila BBM biasa menghasilkan residu polusi udara, hidrogen menghasilkan produk sampingan berupa air saja. Hidrogen juga lebih efisien.

"Efisiensi hidrogen 85%, sedangkan BBM yakni energi dari bensin menjadi penggerak roda maksimal 25%. Jadi hidrogen memang lebih efisien," kata Eni.

Dalam proses elektrolisis, Eni tidak menggunakan bahan bakar minyak melainkan menggunakan sel surya (solar cell) dan angin (wind turbin). Elektrolisis menggunakan Proton Exchange Membrane (PEM) Electrolyzer.

Apakah ini merupakan temuan yang sama sekali baru? "Ini sudah ditemukan sejak 1835, namun hal yang kita temukan adalah katalisnya dan membrannya," kata peneliti ahli utama BRIN ini.

Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)Prof Eniya Listiani Dewi dan temuan sel tunam, mengubah air menjadi bahan bakar hidrogen. (Dok Eniya dari BRIN)

Kapan bisa dipakai masyarakat?

Sel tunam temuan BRIN ini masih dalam bentuk purwarupa. Eni menyatakan masih butuh waktu untuk menyempurnakan temuannya sebelum bisa dipasarkan dan dimanfaatkan masyarakat umum.

"Saya masih perlu waktu mengembangkan tipe hidrogen ini," kata Eni.

Dia menyebut dua perusahaan besar di bidang otomotif Jepang yang sudah mempunyai teknologi sejenis namun tujuh kali lipat lebih jauh jarak tempunya ketimbang temuannya di BRIN. Inilah yang masih coba dikejar Eni.

Kementerian Perindustrian, kata Eni, menargetkan ada 3 ribu kendaraan berbasis hidrogen pada 2030. Eni berusaha menepati target yang harus tercapai delapan tahun lagi itu.

Soal harga, Eni menjelaskan harga BBM saat ini relatif murah di Indonesia karena pemerintah memberikan subsidi. Bila subsidi BBM dicabut, harga hidrogen bakal setara dengan BBM. Harga sel tunam (fuel cell) diperkirakannya Rp 15 ribu per kWh.

"Kalau dicabut subsidinya, harganya bakal sama. Keunggulannya, hidrogen lebih ramah lingkungan," kata dia.

Simak juga 'Nikuba, Alat yang Diklaim Mampu Ubah Air Jadi Bahan Bakar':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)