Seni-Budaya Kian Bangkit, Nadiem: Berkat Kegigihan buat Merdeka Berbudaya

Nada Zeitalini - detikNews
Minggu, 15 Mei 2022 10:19 WIB
Kemendikbudristek
Foto: Dok. Kemendikbudristek
Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan semangat berbudaya para seniman dan pelaku budaya kian bangkit. Hal ini terlihat dari berbagai karya yang disebutnya 'lebih' merdeka.

"Itu semua berkat kegigihan kita untuk merdeka dalam berbudaya. Dampaknya, sekarang tidak ada lagi batasan ruang dan dukungan untuk berekspresi, untuk terus menggerakkan pemajuan kebudayaan," ucap Nadiem dalam keterangan tertulis, Minggu (15/5/2022).

Hal itu ia sampaikan di sela-sela Upacara Bendera dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022, Jumat (13/5). Dalam kesempatan itu, sejumlah kekayaan budaya Indonesia ditampilkan dalam pagelaran musik dan paduan suara Alumni Gita Bahana Nusantara dan orkestra SMKN 2 Cibinong.

Tahun ini, lanjut Nadiem, Kemendikbudristek menominasikan empat elemen budaya Indonesia agar terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO. Empat di antaranya yaitu Tenun Indonesia, Reog, Jamu, dan Tempe. Setelah melewati kajian dan tahapan panjang akhirnya berhasil diresmikan pada 25 Maret 2022. Keempat kekayaan WBTb ini akan terus dikawal Kemendikbudristek hingga tercantum dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

"Kekayaan budaya Indonesia harus terus kita jaga dan lestarikan. Saya mengajak seluruh pemuda mencintai kebudayaan Indonesia," ajaknya.

Menanggapi hal yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid berharap agar Hardiknas menjadi momen kebangkitan untuk para seniman dan pelaku budaya.

"Harapan saya, momen kebangkitan ini kita gunakan penuh. Hubungan kebudayaan dengan pendidikan sangat penting, karena kebudayaan adalah sumber belajar sekaligus tujuan pembelajaran. Hasil pendidikan nantinya adalah kebudayaan kita meningkat. Maka, untuk generasi muda teruslah kenali negerimu, kenali budayamu, supaya kecintaan terhadap budaya itu bertambah," tutur Hilmar.

Upacara Bendera yang diadakan di kantor Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) diikuti oleh jajaran pejabat dan staf Kemendikbudristek, perwakilan peserta didik, dan mahasiswa. Para peserta upacara memakai kain khas Nusantara, yaitu tenun, serta ragam pakaian adat dari seluruh penjuru Indonesia.

Ada pula jamuan tradisional khas Indonesia, seperti minuman herbal yang terbuat dari rempah-rempah. Peneliti Warisan Budaya Takbenda Gaura Mancacaritadipura yang hadir pada kesempatan ini menilai jamu dapat menjadi persembahan Indonesia bagi dunia, khususnya di masa pandemi.

"Jamu punya nilai kebudayaan yang kuat. Pembuat jamu biasanya berdoa bagi kesehatan pemesannya sebelum membagikan jamu," tuturnya.

Ia juga mengungkapkan komunitas jamu di seluruh Indonesia jumlahnya sangat banyak dan mereka terus berupaya menyosialisasikan jamu sebagai obat tradisional yang berkhasiat dan menyembuhkan.

Selain jamu, ada makanan khas Indonesia yang membudaya pada masyarakat Jawa yaitu Tempe. Saat ini, tempe menjadi salah satu menu pokok tanah air yang dapat ditemui di warung makan hingga restoran bintang lima. Menariknya makanan dari kedelai ini diminati hingga kancah global oleh kaum vegetarian.

Agar semakin kental budaya, upacara ditutup penampilan Reog Ponorogo. Ketua Umum Paguyuban Reog Ponorogo Catur Yudianto mengungkapkan bahwa organisasinya rutin menggelar program tahunan. Mulai dari pendidikan dan latihan seni tari, festival dan parade, serta pagelaran setiap bulan.

"Bahkan sekarang Reog Ponorogo dimainkan bukan dari Jawa saja, tapi ada anak-anak muda dari Medan, Padang, Papua, Jakarta, dan lain-lain," tutur Yudi.

Yudi mengungkapkan tujuan paguyubannya adalah agar para penerus bangsa memiliki panutan kebudayaan.

"Generasi muda tergantung didikan orang tua. Kalau orang tua membiarkan anak-anak kita bebas berkeliaran ke mana saja, mungkin tidak akan terarah. Tugas kami adalah mengarahkan pewarisan kebudayaan," ungkapnya.

"Kita lahir sebagai kertas putih dan tergantung siapa yang mencoret. Kalau coretannya bagus, pasti kertasnya jadi bagus. Jika pendidikannya baik, budayanya juga baik. Maka, keterkaitan pendidikan dan kebudayaan sangat erat. Keseharian kita merupakan hasil pendidikan yang menjadi budaya dan kebiasaan. Masyarakat dengan budaya adiluhung pasti orangnya cerdas-cerdas," imbuhnya.

Reog merupakan tarian komunal yang dikemas sebagai sendratari yang terdiri atas penari topeng menyerupai harimau besar dengan hiasan bulu ekor merak. Penari-penari lain berkostum raja, panglima perang, ksatria, dan prajurit penunggang kuda. Berawal di Desa Sumoroto, Kabupaten Ponorogo hingga akhirnya menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia hingga mancanegara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Korea, Jepang, Hong Kong, dan Malaysia.

(akn/ega)