Derita Mbah Pasiah Lansia Penjual Sayur: Sakit Katarak, Rumah Tak Layak

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 14 Mei 2022 19:14 WIB
Jakarta - Di pagi yang begitu teduh di kaki Gunung Sumbing, Desa Tanjungsari, Magelang, Mbah Pasiah (70) dengan semangat menggendong keranjang berisi sayur mayur dan lauk pauk untuk dijual.

Langkahnya tak ragu dan mantap meski dia sudah begitu tua dimakan usia. Berkeliling dia menjajakan sayur yang sebelumnya dia beli dari orang dengan berutang. Dari jualan keliling, Mbah Pasiah hanya mengambil untung Rp 500 hingga Rp 2.000. Jika terlampau tinggi dia mematok harga, Si Mbah takut ditinggal pelanggan.

Mbah Pasiah tidak punya pilihan lain. Sebab, dia harus menjadi tulang punggung keluarga dan menghidupi anak, menantu, dan cucunya karena suaminya telah lama meninggal dunia. Sementara anaknya, Kibtiyah, tak bisa terlalu keras karena sakit dan menantunya hanya tukang ojek.

Si Mbah juga terkadang memetik pucuk teh dan mengolahnya berjam-jam untuk bisa dijual. Proses ini membutuhkan waktu berjam-jam. Namun, bermodal sabar, Mbah Pasiah bisa melalui semuanya.

"Saya menghidupi dan menikahkan anak saya ya dari pundak (usaha) saya sendiri, banting tulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, semua untuk anak-anak. Hidup memang berat. Semoga, ketika saya diambil Tuhan, semoga saya diberi jalan yang mudah. Cuma itu keinginan saya," ucap Mbah Pasiah.

Semua dilakukan dengan ikhlas, padahal nenek ini menderita katarak. Sakit ini tak pernah dirasanya. Padahal sering kali dia tidak bisa melihat dan matanya sakit jika dirinya lelah.

"Kalau badan sehat, nggak apa-apa. Kalau capek, ya terasa. Kalau lihat jauh, nggak bisa. Kalau dekat, masih bisa," sambung Si Mbah.

Penderitaan ini dia rasakan dan tahan begitu lama. Tidur pun Mbah Pasiah harus meringkuk kedinginan karena di beberapa bagian rumah berbilik bambu ini bolong. Tikus-tikus di rumahnya-lah yang menyebabkan kerusakan rumah di sana-sini.

Tak hanya itu, rumah tersebut juga tidak memiliki sarana MCK yang memadai. Kalaupun ada tempat untuk sekadar membersihkan diri, lokasinya jauh bersekatan dengan kandang kambing.

Dengan berbagai cobaan hidup itu, Kibtiyah pun tak mampu menahan tangis. Rasa bersalah yang dipikulnya karena tak bisa membantu perekonomian keluarganya. Bukan tanpa alasan, namun sakit pascaoperasi sesar anak keduanya membuat Kibtiyah tak bisa melakukan pekerjaan yang berat. Apalagi suaminya, Slamet, hanyalah tukang ojek dengan penghasilan yang tak menentu. Motornya pun merupakan pinjaman dan dihargai Rp 15 ribu per hari untuk biaya sewa.

"Pinjam pada pamannya, nyewa, Rp 15 ribu. Dapatnya kadang Rp 25 ribu, Rp 20 ribu. Kadang nggak segitu," jelas Kibtiyah.

Jika sedang bugar, Kibtiyah pun berusaha membantu keluarga dengan mencari kayu bakar atau rumput untuk pakan kambing milik tetangga. Namun tetap saja, terkadang, sekeras apa pun berusaha, hidup tak selalu berpihak pada keluarga ini.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menjadi orang yang meringankan beban hidup mereka. Tujuannya, keluarga ini tidak lagi tinggal di rumah yang banyak bolong digerogoti tikus dan Kibtiyah bisa mempunyai usaha untuk membantu perekonomian keluarga. Diharapkan juga, suaminya bisa mendapatkan motor pribadi dan tak lagi meminjam untuk mengojek.

Semuanya bisa terwujud jika kita bersama memberikan kebaikan untuk Mbah Pasiah. Kamu bisa membantu Mbah Pasiah lewat berbuatbaik.id CTARSA Foundation dengan mengklik 'Donasi Sekarang' di sini.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang diikuti, berikut update terkininya.

Jika berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang! (kny/imk)