Jokowi Dorong Kemitraan ASEAN-AS Tangani Perubahan Iklim

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Sabtu, 14 Mei 2022 08:42 WIB
Presiden Jokowi (Dok Biro Pers Sekretariat Presiden)
Presiden Jokowi (Foto: dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara mengenai perubahan iklim. Jokowi mendorong kemitraan ASEAN-AS dalam menangani perubahan iklim.

"Pembiayaan iklim yang harus terpenuhi, kerja sama transisi energi diperkuat, dan investasi di ekonomi hijau harus ditingkatkan," ungkap Jokowi dalam pertemuan para pemimpin negara ASEAN dengan Wakil Presiden AS Kamala Harris di Departemen Luar Negeri AS, Washington, seperti rilis dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Jumat (14/5/2022).

Terkait perubahan iklim, Jokowi mendorong negara-negara maju untuk memenuhi komitmennya dalam pencapaian NDC (Nationally Determined Contributions) secara global. Pada periode 2000-2019, tegas Jokowi, ASEAN hanya memperoleh USD 56 miliar atau sekitar 10 persen dari total dukungan pembiayaan iklim negara maju.

"Saya harus terus terang bahwa komitmen negara maju untuk implementasi isu pembiayaan iklim sangat rendah. Kondisi ini menjadi penghambat pencapaian NDC secara global," jelas Jokowi.

Jokowi menambahkan ASEAN berkomitmen meningkatkan proporsi energi terbarukan dari 14 persen pada 2018 menjadi 23 persen pada 2025.

"Upaya ini memerlukan investasi dan teknologi setidaknya USD 367 miliar di sektor energi bersih. Di Indonesia, transisi energi 8 tahun ke depan membutuhkan USD 30 miliar," ucap Jokowi.

Jokowi menyampaikan potensi besar yang dimiliki Indonesia terkait transisi energi, yaitu potensi energi terbarukan sekitar 437 GW, baik dari energi surya, bayu, maupun panas bumi, yang saat ini pemanfaatannya baru mencapai 0,3 persen dari total potensi.

"Indonesia juga miliki potensi besar sebagai hub pengembangan ekosistem kendaraan listrik di kawasan yang akan kita butuhkan 5 tahun ke depan," imbuh Jokowi.

Jokowi lalu bicara mengenai investasi ekonomi hijau. Menurutnya, ada potensi peluang ekonomi yang besar, sehingga perlu mekanisme yang mempertemukan bukan hanya sektor pemerintah, tapi juga dunia usaha.

"Investasi di sektor infrastruktur hijau bisa menjadi unsur penting kolaborasi ASEAN-AS, yang membutuhkan setidaknya USD 2 triliun dalam satu dekade mendatang," pungkas Jokowi.

Dalam pertemuan itu, Jokowi didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Duta Besar RI untuk AS Rosan Roeslani, sementara Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengikuti acara di ruangan terpisah.

Simak juga 'Hadiri KTT COVID-19, Jokowi: Ketahanan Kesehatan Dunia Tak Cukup Kuat':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/isa)