Akademisi Nilai Semangat Kebangsaan Kelompok Tionghoa Menguat Pasca-1998

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 13 Mei 2022 16:43 WIB
Johanes Herlijanto
Johanes Herlijanto (dok. ist)
Jakarta - Peristiwa Mei 1998 menimbulkan kepahitan yang sangat dalam bagi etnis Tionghoa. Namun tragedi tersebut tidak serta-merta mengurangi semangat kebangsaan Indonesia di kalangan orang-orang Tionghoa.

"Pascaterjadinya kerusuhan tersebut, etnis Tionghoa di Indonesia justru semakin aktif memperlihatkan kepada publik negeri ini bahwa mereka pun orang-orang Indonesia, sama seperti komponen bangsa Indonesia lainnya," kata dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) Dr Johanes Herlijanto, kepada wartawan, Jumat (13/5/2022).

Menurut Ketua dan Pendiri Forum Sinologi Indonesia (FSI) Jakarta itu menyatakan masyarakat Tionghoa semakin menyadari Indonesia adalah tanah air bagi mereka di masa kini dan masa depan. Etnik Tionghoa yang baru saja melalui masa-masa terburuk akibat tragedi kemanusiaan itu membentuk berbagai organisasi dengan tujuan untuk turut berkontribusi bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik.

"Melalui organisasi-organisasi tersebut, kalangan Tionghoa secara menyeluruh diimbau untuk turut berpartisipasi pada kegiatan sosial dan politik agar lebih terintegrasi dalam masyarakat Indonesia secara utuh," beber Johanes Herlijanto itu.

Herlijanto menilai bahwa kegiatan sosial dan politik di atas juga ditujukan untuk menghapuskan berbagai stereotip yang telah lekat selama berdasawarsa. Antara lain mengenai kurangnya loyalitas kebangsaan mereka.

"Namun demikian, upaya Tionghoa memperkuat semangat kebangsaan dalam dua dasawarsa terakhir ini belum secara tuntas menepis narasi miring mengenai loyalitas mereka terhadap Indonesia," tuturnya.

Bagi Herlijanto, kenyataan ini patut disayangkan mengingat etnik Tionghoa sejatinya telah mengalami proses akulturasi selama berberabad-abad di Nusantara.

"Akulturasi tersebut membentuk sebuah jati diri tersendiri sebagai orang Tionghoa Indonesia, yang seratus persen berbeda, dan tidak lagi memiliki hubungan, dengan masyarakat maupun pemerintah yang berkuasa di daratan Cina," papar Johanes Herlijanto.

Sayangnya, stigma sebagai asing yang menurutnya telah terlanjur terkonstruksi di era penjajahan tetap dilekatkan pada Tionghoa. Padahal, menurut Herlijanto, tak sedikit tokoh-tokoh Tionghoa yang memiliki andil penting dalam proses pembangunan kebangsaan Indonesia.

"Pendirian untuk mengedepankan kebangsaan Indonesia terus dipertahankan oleh para tokoh Tionghoa pada masa awal kemerdekaan Indonesia," bebernya.

Memasuki era Reformasi, seiring dengan makin meningkatnya iklim demokrasi di Indonesia, partisipasi etnik Tionghoa dalam dunia politik, sosial, dan seni budaya pun semakin meningkat. Terciptanya masyarakat Indonesia yang makin demokratis meningkatkan peluang bagi etnik Tionghoa untuk lebih berperan dalam membangun wajah Indonesia. Oleh karena itu, bagi Herlijanto, pertanyaan mengenai loyalitas Tionghoa sejatinya telah usang.

"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pegiat Tionghoa yang sedang berjuang untuk melawan stereotip yang mempertanyakan semangat keindonesiaan mereka," tuturnya. (asp/dnu)