Perspektif

Klan Marcos Bangkit di Filipina, Klan Soeharto di RI Bisa Juga?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 15:13 WIB
Mantan Ibu Negara Filipina, Imelda Marcos, mengunjungi jenazah Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang telah diawetkan, 11 September 2005 di Batac, Ilocos norte, Filipina Utara. (Jay Directo/AFP/Getty Images).
Mantan Ibu Negara Filipina, Imelda Marcos, mengunjungi jenazah Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang telah diawetkan, 11 September 2005 di Batac, Ilocos Norte, Filipina Utara. (Jay Directo/AFP/Getty Images).
Jakarta -

Setelah 'tertidur' selama tiga dekade, klan Ferdinand Marcos bangkit di Filipina. Ferdinand 'Bongbong' Marcos Junior berhasil memenangi Pilpres 2022 di negaranya. Apakah klan Soeharto di Indonesia juga bisa bangkit seperti klan Marcos di Filipina?

Ferdinand Marcos dan Soeharto sama-sama pernah berkuasa selama lebih dari satu dekade di negara masing-masing. Dahulu kala, Ferdinand Marcos berkuasa pada 1965 sampai 1986. Saat rezim Marcos berkuasa, sentimen antikomunisme revolusioner dia gaungkan. Dia mematikan media massa dan menangkap lawan politik. Pada masanya pula, korupsi dan kroniisme meluas. Uang negara disedot ke rekening pribadi Marcos di Swiss.

Pada 1986, Marcos kembali terpilih menjadi Presiden Filipina. Namun pemilu yang diduga dipenuhi kecurangan, intimidasi, dan kekerasan ini menjadi titik klimaks bagi dirinya. Marcos akhirnya diturunkan dari jabatannya dalam Revolusi EDSA (Epifanio de los Santos Avenue) pada tahun yang sama. Bersama istrinya, Imelda, Marcos melarikan diri dari Filipina. Marcos meninggal di pengasingannya di Hawaii pada 1989.

Sementara itu, Soeharto, Presiden ke-2 RI, berkuasa selama 32 tahun. Soeharto lengser pada 1998 seiring momentum reformasi. Saat reformasi, rakyat protes soal krisis ekonomi serta korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang berurat-akar. Selepas Soeharto tak lagi menjabat presiden, sejumlah anaknya juga menjajaki politik praktis.

Lampu Kuning untuk RI!

Staf Peneliti di Pusat Riset Politik-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN), Wasisto Raharjo Jati, menilai terpilihnya Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr di Filipina sebagai peringatan untuk demokrasi di Indonesia. Soalnya, gejala politik ini sudah kian umum di Asia Tenggara.

"Secara regional, bangkitnya klan Marcos, begitu pula dengan pemerintahan militeristik di Myanmar dan Thailand, sekarang ini menunjukkan adanya lampu kuning terhadap perkembangan demokrasi di ASEAN, termasuk pula Indonesia," kata Wasisto membagikan perspektifnya kepada detikcom, Kamis (12/5//2022).

Wasisto melihat adanya kemunduran demokrasi di kawasan regional Asia Tenggara. Ada kecenderungan yang tampak di permukaan, masyarakat Asia Tenggara cenderung suka dengan sosok yang 'kuat'. Tidak mustahil, kecenderungan ini juga bisa mempengaruhi Pilpres 2024.

"Kepemimpinan orang kuat dan machoisme kekuasaan kini menjadi pola umum yang bisa berpotensi terjadi di Indonesia pada 2024," kata Wasisto.

Di Filipina, ada jarak antara pelengseran Marcos 1986 dan Pemilu Filipina 2022. Generasi muda Filipina kini berjarak dengan sejarah catatan buruk rezim Marcos dahulu kala. Di Indonesia, momen lengsernya Soeharto pada 1998 juga sudah lama terjadi.

Setelah 32 tahun menduduki jabatan sebagai Presiden RI, Soeharto akhirnya menyerah. Pada tanggal 21 Mei 1998, tepat 20 tahun lalu, Soeharto resmi mundur.Setelah 32 tahun menduduki jabatan sebagai Presiden RI, Soeharto akhirnya menyerah pada 21 Mei 1998.

Anak-anak muda berpotensi tidak paham pada isu-isu yang melatarbelakangi dorongan rakyat agar Soeharto lengser kala itu. Generasi muda saat ini menjadi generasi yang ahistoris. Generasi ahistoris ini rentan sekali terjangkit hoax yang membelokkan catatan sejarah. Kalau begitu kondisinya, sejarah bisa berulang! Apalagi kampanye media sosial juga mudah sekali dilakukan.

"Hal inilah yang rentan terkena disinformasi soal kampanye glorifikasi Orba dan atribut otoritarianisme yang menekankan stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi," kata Wasisto.

Tulisan-tulisan 'Piye kabare? Enak jamanku to? dengan gambar Soeharto menjadi kian akrab. Narasi soal kebutuhan pangan yang tercukupi di era Orde Baru, keamanan yang stabil, maupun ekonomi yang berimbang seolah membangkitkan romantisme masa lalu.

Portrait dated 1970's of Indonesian President Mohamed Suharto. (Photo by - / AFP)Soeharto (Foto: dok. AFP)

Selanjutnya, apakah klan Soeharto masih kuat?:

Tonton Video: Anak Diktator Ferdinand Marcos Jr Memenangkan Pilpres Filipina

[Gambas:Video 20detik]