Bamsoet Optimistis Ekonomi RI Masuk 5 Besar di Dunia, Ini Alasannya

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 10 Mei 2022 18:16 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengaku yakin pada tahun 2024 nanti kekuatan ekonomi Indonesia akan menjadi peringkat ke-5 di dunia. Menyusul China, Amerika Serikat, India, dan Jepang.

Hal ini diketahui sejalan dengan prediksi portal Statista yang menjadi rujukan berbagai Lembaga riset dan Lembaga pemerintahan dunia.

"Kajian Statista tersebut digunakan menggunakan berbagai indikator ekonomi yang bersumber dari International Monetary Fund (IMF), antara lain purchasing power parity dan international dollars. Sehingga akurasinya sangat terpercaya," ungkap Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (10/5/2022).

Bamsoet menjelaskan prediksi Statista menempatkan Indonesia di peringkat ke-5 ekonomi dunia bukanlah tanpa perhitungan yang matang. Sebagai gambaran, pada Senin (9/5) Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q1-2022 sebesar 5,01% secara year on year (YoY). Jumlah ini meningkat dibandingkan Q1-2021 yang terkontraksi minus 0,70%.

"BPS juga mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 9,33 miliar. Sementara nilai PDB atas dasar harga berlaku sebesar Rp 4,513 triliun, dan nilai PDB atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp 2,819 triliun," jelas Bamsoet.

Kendati demikian, Bamsoet mengingatkan agar Indonesia tak lantas berpuas diri dengan prediksi tersebut.

"Karena untuk mewujudkan prediksi tersebut, perlu kerja keras dari semua pihak, baik dari pemerintah, dunia usaha dan juga masyarakat luas, dengan didukung kondusivitas dan stabilitas politik dalam negeri yang terjaga dengan baik," tegasnya.

Lebih lanjut, Bamsoet menerangkan salah satu faktor kekuatan ekonomi Indonesia disebabkan membaiknya kondisi konsumsi rumah tangga. Menurutnya, hal ini merupakan dampak keberhasilan upaya memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat.

Tak hanya itu, terputusnya mata rantai penyebaran virus COVID-19 juga dinilai telah berhasil mengembalikan kepercayaan investor terhadap Indonesia. Terlihat dari pulihnya kredit perbankan dan kinerja PMA/PMDB yang stabil selama masa pandemi.

"Indikator lainnya bisa dilihat dari penilaian lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) yang melaporkan terjadinya peningkatan outlook Indonesia dari negatif menjadi stabil dan mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB (Investment Grade) pada 27 April 2022," papar Bamsoet.

Ia menambahkan outlook yang stabil merupakan pengakuan atas peningkatan sektor eksternal Indonesia, pemulihan ekonomi Indonesia yang akan berlanjut selama dua tahun ke depan, dan kemajuan bertahap menuju konsolidasi fiskal Pemerintah.

"Sementara peringkat BBB didasarkan pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid dan dinamika kebijakan yang berorientasi masa depan," imbuhnya.

Selain dari basis fundamental ekonomi, lanjut Bamsoet, ada juga potensi lain yang dapat mengantarkan Indonesia menuju peringkat 5 besar kekuatan ekonomi dunia. Misalnya, besarnya jumlah penduduk yang mencapai 270 juta jiwa. Apalagi 20% di antaranya atau sekitar 50-60 juta jiwa tergolong sebagai kelas menengah.

"Indonesia juga sedang mengalami masa keemasan bonus demografi karena usia produktif (15-64 tahun) mendominasi jumlah penduduk di dalam negeri. Dari 270 juta penduduk Indonesia, didominasi oleh generasi Z (1997-2012) sebesar 27,94% atau 74,93 juta jiwa, milenial (1981-1996) sebesar 25,87% atau 69,38 juta jiwa, dan generasi X (1965-1980) sebesar 21,87% atau 58,65 juta jiwa," pungkas Bamsoet.

Simak juga 'Jokowi Terbang ke AS Untuk Mengikuti ASEAN-US International Summit':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)