ADVERTISEMENT

Gelombang Panas Bukan Penyebab Terik di Indonesia, Ini Kata BMKG

Tim detikcom - detikNews
Senin, 09 Mei 2022 13:59 WIB
Gelombang Panas Bukan Penyebab Terik di Indonesia, Ini Kata BMKG
Gelombang Panas Bukan Penyebab Terik di Indonesia, Ini Kata BMKG (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Gelombang panas dikaitkan dengan cuaca panas terik di sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan bahwa tak ada kaitannya antara gelombang panas dan kondisi yang terjadi sepekan terakhir ini.

Dari hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum selama periode 1-7 Mei 2022 berkisar antara 33-36,1 derajat Celcius. Suhu maksimum tertinggi hingga 36,1 derajat Celcius terjadi di wilayah Tangerang, Banten dan Kalimarau, Kalimantan Utara.

Adapun suhu maksimum tertinggi di Indonesia pada bulan April selama 4-5 tahun terakhir yakni ada di Palembang pada 2019 lalu dengan suhu sekitar 38,8 derajat Celcius. Sedangkan untuk bulan Mei selama 4-5 tahun terakhir, suhu maksimum tertinggi terjadi di Temindung Samarinda pada tahun 2018 dengan suhu sekitar 38,8 derajat Celcius.

Berikut penjelasan resmi dari BMKG soal penyebab cuaca panas yang bukan merupakan gelombang panas atau heatwave.

Penjelasan BMKG Soal Penyebab Cuaca Panas Terik

Dilansir Instagram resmi Info BMKG, BMKG menjelaskan ada beberapa hal yang memicu suhu udara terik di siang hari, antara lain:

  1. Posisi semu matahari saat ini sudah berada di wilayah utara ekuator yang mengindikasikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau, dimana tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang, sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi.
  2. Dominasi cuaca yang cerah dan tingkat perawanan yang rendah tersebut dapat mengoptimumkan penerimaan sinar matahari di permukaan Bumi, sehingga menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan oleh masyarakat menjadi cukup terik pada siang hari.

Penjelasan BMKG Soal Gelombang Panas

Cuaca panas terik yang terjadi belakangan ini dipastikan bukan merupakan fenomena gelombang panas.

Menurut World Meteorological Organization atau WMO, gelombang panas atau yang dikenal sebagai 'heatwave" merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut dimana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C atau lebih.

Fenomena gelombang panas biasa terjadi di daerah dengan lintang menengah-tinggi seperti di Eropa dan Amerika yang dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah.

Adapun kondisi cuaca yang belakangan terjadi di Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas/terik dalam skala variabilitas harian.

Meski begitu, BMKG memperingatkan kondisi suhu panas terik pada siang hari masih harus diwaspadai hingga pertengahan Mei mendatang.

Kini gelombang panas dan keterkaitannya dengan cuaca panas terik di sejumlah wilayah di Indonesia sudah dijelaskan oleh BMKG. Adapun masyarakat juga perlu memeriksa prakiraan cuaca pada hari ini, 9 Mei 2022. Simak ulasannya di halaman berikut ini.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT