Pemerintah Investigasi Secara Epidemiologi Tiap Kasus Hepatitis 'Misterius'

Matius Alfons - detikNews
Jumat, 06 Mei 2022 12:24 WIB
HEPATITIS written on a wooden block near a stethoscope, syringe and pills on a blue background. Medical concept
Foto: Getty Images/iStockphoto/ALENA DZIHILEVICH
Jakarta -

Kantor Staf Presiden (KSP) memastikan pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mulai melakukan antisipasi terkait munculnya hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya (acute hepatitis of unknown aetiology). KSP menyebut pemerintah juga tengah menginvestigasi setiap kasus hepatitis misterius ini secara epidemiologi.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Brian Sriprahastuti mengatakan Kemenkes tengah berupaya meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus hepatitis misterius ini. Menurutnya, upaya ini dilakukan agar segera ada tindakan apabila ditemukan kasus dengan gejala dan tanda hepatitis akut, terutama pada anak di bawah usia 11 tahun.

"Investigasi penyebab hepatitis akut dilakukan pada setiap kasus, mungkin melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap," kata Brian seperti dalam keterangannya, Jumat (6/5/2022).

Selain itu, Brian menyebut pemerintah telah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada fasilitas layanan kesehatan, pemerintah daerah, kantor kesehatan pelabuhan (KKP), dan pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan dan kewaspadaan dini terhadap penemuan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya tersebut.

Lebih lanjut Brian menjelaskan hepatitis akut merupakan peradangan pada hati yang terjadi secara mendadak dan cepat memburuk. Ia menguraikan gejala umum dari hepatitis adalah nyeri perut, kuning, diare, muntah-muntah, perubahan warna urine, feses berwarna pucat, demam tinggi atau riwayat demam, serta ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati.

"Jika mendapati anak mengalami gejala-gejala seperti itu, segera dibawa ke rumah sakit atau faskes. Sebab, jika terlambat penanganan, akan terjadi kegagalan fungsi hati, yang ditandai dengan gangguan kesadaran," jelasnya.

Brian mengakui sejauh ini memang belum diketahui penyebab hepatitis akut yang sekarang menjadi KLB tersebut. Sebab, ujar dia, dari hasil pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan adanya virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E yang umumnya menjadi penyebab hepatitis.

"Sampai sekarang belum bisa dibuktikan bahwa kedua virus tersebut menjadi penyebabnya. Pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab baik secara biologis maupun kimiawi masih terus dilakukan," terangnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan terkait kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di sejumlah negara. Di Indonesia sendiri, tiga anak dilaporkan meninggal dengan dugaan hepatitis akut.

Ketiga anak yang meninggal dirawat di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Ketiganya meninggal dalam rentang dua pekan hingga 30 April 2022.

"Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat," tulis Kemenkes dalam siaran pers, Minggu (1/5).

Pasien mengalami gejala sebagai berikut:

Mual
Muntah
Diare berat
Demam
Kuning
Kejang
Penurunan kesadaran

Kemenkes saat ini tengah melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab kematian tiga anak tersebut melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Sementara itu, Dinas Kesehatan DKI akan melakukan penyelidikan epidemiologi.

(maa/imk)