Hari Puisi Nasional 28 April, Mengenang Wafatnya Chairil Anwar

Syena Meuthia - detikNews
Rabu, 27 Apr 2022 14:34 WIB
Chairil Anwar
Hari Puisi Nasional 28 April, Mengenang Wafatnya Chairil Anwar (Foto: Luthfy Syahban/detik.com)
Jakarta -

Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April. Hari Puisi Nasional diperingati bertepatan dengan hari wafatnya penyair terkemuka di Indonesia, yaitu Chairil Anwar.

Lalu tahukah bagaimana sosok Chairil Anwar? Simak ulasannya berikut ini.

Hari Puisi Nasional Untuk Mengenang Wafatnya Chairil Anwar

Mengutip dari laman resmi Ensiklopedia Sastra Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemedikbud), Hari Puisi Nasional bertepatan dengan hari wafatnya penyair Chairil Anwar, yang meninggal pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Meninggalnya Chairil Anwar hanya berjarak tiga bulan dari wafat ayahnya.

Chairil Anwar meninggal dunia karena penyakit paru-paru yang dideritanya pada pukul 14.30. Jenazahnya disemayamkan di Pemakaman Umum Karet pada tanggal 29 April 1949. Pemakamannya mendapatkan perhatian besar dari masyarakat kala itu.

Melansir dari situs Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kemdikbud, Hari Puisi Nasional diperingati untuk mengenang karya-karya puisi yang dibuat Chairil Anwar.

"Beliau adalah seorang penyair yang telah melahirkan 96 karya, termasuk 70 puisi," tulis Kemdikbud.

Chairil Anwar menjadi tokoh sastrawan Indonesia dan seorang penyair yang konsisten bergelut dalam bidang penulisan puisi. Berkat dedikasinya di bidang sastra, Chairil Anwar dinobatkan sebagai pelopor Angkatan 45.

Hari Puisi Nasional, Simak Sosok Chairil Anwar dan Karyanya

Mengutip dari situs Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud, Chairil Anwar lahir tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di HIS Medan, ia meneruskan sekolah tingkat MULO di Medan atau setingkat SLTP. Hanya sampai kelas satu, Chairil pindah ke MULO di Jakarta.

Sejak masih duduk di bangku sekolah MULO, Chairil Anwar merupakan anak yang senang membaca buku. Bahkan, buku-buku yang dibacanya adalah setingkat HBS. Sayangnya, saat sekolah di MULO Jakarta, Chairil Anwar hanya dapat duduk sampai bangku kelas dua.

Chairil Anwar tetap belajar sendiri (autodidak). Dia giat belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman. Sehingga bisa membaca dan mempelajari karya sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa asing tersebut," tulisnya.

Melalui penuturan Hapsah mantan istri Chairil, keseharian Chairil hanyalah membaca buku, mempelajari sajak penyair luar negeri, dan mengartikan sajak asing.

"Jika Chairil Anwar berada di rumah, tidak ada lain yang diperbuatnya kecuali membaca, sampai di meja makan pun ia membawa buku, menyuap nasi sambil membaca. Di tempat tidur juga begitu, ia selalu membaca sajak-sajak dan berusaha memberikan pengertian," ungkap Hapsah yang dituliskan Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud pada situs resminya.

Pengalaman menulis Chairil dimulai pada tahun 1942 melalui ciptaan puisi pertamanya berjudul "Nisan". Dia menulis sampai dengan akhir hayatnya. Di mana pada tahun 1949, Chairil menghasilkan enam buah sajak.

Kiprah Chairil Anwar dalam mewarnai dunia Sastra juga menuliskan beberapa puisi terkenalnya. Misalnya Puisi bertema perjuangan berjudul:

  • Aku
  • Karawang-Bekasi
  • Diponegoro

Melalui karyanya tersebut, Chairil Anwar menggambarkan bagaimana perjuangan negara Indonesia untuk merdeka.

Bukan hanya itu, Chairil Anwar juga menuliskan beberapa puisi dengann tema percintaan dan renungan. Beberapa yang terkenal adalah:

  • Senja di Pelabuhan kecil
  • Doa
  • Selamat Tinggal

Demikian informasi Hari Puisi Nasional dan kisah wafatnya Chairil Anwar yang sangat menginspirasi. Kalau kamu suka puisi Chairil Anwar yang mana?

Simak juga 'Vakum 2 Tahun, Synchronize Fest Bakal Kembali Mengguncang':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)