Kepala BNPT: Fanatisme Agama Bagus, tapi Tak Boleh Monopoli Kebenaran

Antara - detikNews
Sabtu, 23 Apr 2022 13:58 WIB
Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar (Foto: BNPT)
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar (Foto: dok. BNPT)
Jakarta -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar bicara soal fanatisme agama. Dia mengimbau masyarakat Indonesia agar tidak menjadikan fanatisme agama sebagai alat memonopoli kebenaran.

"Fanatisme terhadap agama itu bagus sekali. Akan tetapi yang terpenting tidak boleh memonopoli kebenaran atau menyatakan kebenaran secara sepihak dan mengatakan yang lain salah," kata Boy Rafli saat menjadi narasumber dalam Podcast Kafe Toleransi BNPT bertajuk 'Monopoli Kebenaran dan Fanatisme Agama' yang disiarkan di kanal YouTube Humas BNPT, seperti dilansir Antara, Sabtu (23/4/2022).

Menurut dia, fanatisme agama yang tidak diikuti dengan monopoli kebenaran akan menjaga kebinekaan yang ada di Indonesia. Dia mengatakan hal itu bisa membuat persatuan dan kesatuan di Tanah Air pun ikut terjaga.

Boy Rafli memandang setiap umat beragama sebenarnya patut memiliki fanatisme terhadap agamanya.

"Fanatisme dalam menjalankan ibadah dan syariat agama memang merupakan hal yang harus dilakukan sebagai orang yang beriman dan bertakwa," katanya.

Meski demikian, kata Boy Rafli, masyarakat juga harus menyadari bahwa ada pemeluk agama lain yang memiliki bentuk ibadah dan syariat masing-masing. Oleh karena itu, setiap anak bangsa harus saling menghargai dan menghormati, terlepas dari apa pun agama yang dianut.

Dia pun menekankan memeluk agama tertentu merupakan hak individu yang dimiliki oleh setiap anak bangsa.

"Kita harus menyadari di luar kita, ada orang lain yang menganut agama berbeda sehingga kita harus menghormatinya. Kita harus saling menghargainya. Ini juga merupakan prinsip tasawuf atau bertoleransi," kata Boy Rafli.

Dia menyampaikan bahwa keberagaman di Indonesia, seperti suku, agama, adat, dan budaya, merupakan keniscayaan yang harus dijaga oleh seluruh elemen bangsa. Bahkan, kata dia, proses masuk dan penyebaran suatu agama ke Indonesia, seperti Islam, tidak terlepas dari pembauran dengan adat dan istiadat yang beragam.

"Bangsa Indonesia sangat beragam, bahkan proses masuknya agama Islam juga diteruskan para wali berbaur dengan adat dan budaya sehingga kita harus melihatnya sebagai kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain," ujar Boy Rafli.

Dia pun mengajak bangsa Indonesia untuk mensyukuri keberagaman di Tanah Air dengan tidak memonopoli kebenaran melalui fanatisme dan tetap menguatkan nilai-nilai toleransi.

Simak juga 'Polisi Ungkap Jaringan Teroris NII Sumbar Punya Lebih dari Seribu Anggota':

[Gambas:Video 20detik]



(haf/idh)