Hidup di Tenda Entah Sampai Kapan
Selasa, 30 Mei 2006 07:13 WIB
Bantul - "Rumah" kedua Wahid (53) terbangun dengan cepat dan mudah karena bahan bakunya memang gampang didapat: karung beras dari plastik, tali, dan berlembar-lembar daun pisang.Sudah dua hari Wahid menghabiskan malam tanpa listrik di dalam tenda darurat di depan rumahnya di Dusun Colo, Kelurahan Donotirto, Kecamatan Kretek, Bantul, bersama ibunya yang telah renta, istri, dan ketiga anaknya.Rumah yang telah dihuninya selama berpuluh-puluh tahun rusak berat oleh gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada Sabtu (27/5/2006) lalu. Ruang depan sampai kamar tengah rumah berukuran 6 X 9 meter itu berantakan, meskipun atapnya tidak sampai roboh. Keluarga ini mungkin bisa saja berteduh di kamar belakang yang masih bisa digunakan, setidaknya agar terhindar dari air hujan atau dinginnya angin malam. Akan tetapi, seperti juga sebagian besar warga lain yang terkena gempa, mereka masih trauma berada di ruangan bertembok."Mau ambil baju saja masih belum berani, Mas. Saya pasti nyuruh Bapak," kata Painem (50), istri Wahid yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani, saat ditemui detikcom, Senin (29/6/2006).Keluarga Wahid hanya satu dari puluhan ribu orang yang kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya akibat gempa berkekuatan 5,9 skala Richter itu, termasuk desa Ngrapyak Kulon, Panjang Rejo, Kecamatan Pundong, Bantul, yang hampir seluruh rumah penduduknya lebur binasa."Semalam kami berempat semua tidur di sini," ujar Alfiah (56), seorang warga sambil menunjuk "poskamling mini" yang dibuat suaminya. Rumah darurat itu beratap seng dan ditopang oleh empat potong kayu dari reruntuhan rumah utama mereka. Lampu ting -- botol kaca kecil berisi minyak tanah yang diberi sumbu -- menemani kehidupan malam mereka, entah seberguna apa penerangan seminim itu.Umumnya warga yang malang itu tidak tahu sampai kapan harus bertahan di tenda-tenda darurat itu karena untuk membangun rumah tentu diperlukan waktu yang tidak sebentar. Apalagi biaya untuk itu tidak ada. "Boro-boro mikir bangun rumah lagi, bisa makan saja sudah syukur," ungkap Ati (24), warga Dusun Semoyo, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, yang saat ini bersama keluarganya bernaung dalam terpal warna biru, yang didirikan di tengah sawah.
(a2s/)











































