Suara Mahasiswa

Ketua BEM KM UGM soal Partai Mahasiswa Indonesia: Waspadai Penjinakan!

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 22 Apr 2022 15:11 WIB
Ketua BEM KM UGM, Muhammad Khalid (Dok Muhammad Khalid)
Ketua BEM KM UGM, Muhammad Khalid (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Ketua Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) skeptis dan waspada terhadap kemunculan Partai Mahasiswa Indonesia. Dia menduga partai itu dibikin oligarki untuk menjinakkan mahasiswa kritis.

"Saya sudah mendengar wacana ini sejak beberapa waktu lalu," kata Ketua BEM KM UGM Muhammad Khalid kepada detikcom, Jumat (22/4/2022).

Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2018 ini menjelaskan hipotesisnya, Partai Mahasiswa Indonesia bakal muncul sebagai tantangan baru bagi pergerakan aktivisme mahasiswa. Hal negatif perlu diantisipasi, meskipun kemunculan partai baru adalah hal biasa dalam demokrasi. Aktivisme politik, menurut Khalid, tidaklah berkanal tunggal berwujud partai politik yang bermuara ke parlemen (DPR), tapi ada juga gerakan ekstraparlementer.

Dengan nama 'mahasiswa' dalam nama partai itu, risiko yang muncul adalah pencaplokan identifikasi mahasiswa ke salah satu partai.

"Saya menyayangkan ada upaya untuk mengkooptasi identitas mahasiswa, seakan-akan dapat diwakili oleh satu identitas tunggal saja. Ketika mencoba menggeneralisasi identitas mahasiswa, ini representasinya hanyalah semu dan imaginer. Sayangnya kalau pandangan mahasiswa dalam sistem politik ini hanya diwakilkan dalam satu entitas, ini sangat menyempitkan pandangan yang beragam," kata Khalid.

Identitas gerakan mahasiswa adalah beragam, tidak tunggal. Ideologi hingga cara kerja gerakan mahasiswa bermacam-macam menurut disiplin dan latar belakang.

Partai ini, menurut Khalid, muncul saat mahasiswa tidak percaya dengan partai-partai yang duduk di parlemen. Mahasiswa sendiri selalu mengkritisi kerja legislasi DPR termasuk omnibus law hingga rencana amendemen konstitusi. Munculnya wacana perpanjangan masa jabatan presiden juga muncul dari partai-partai yang bercokol di parlemen.

Selanjutnya, Khalid khawatir partai tersebut adalah alat penguasa untuk menjinakkan protes. "Bisa jadi adanya partai mahasiswa ini hanya jadi alat kooptasi politik oleh oligarki yang menguasai sistem pemerintahan politik," kata dia.

Partai Mahasiswa Indonesia dinilainya juga dapat mengganggu kesatuan gerakan mahasiswa. "Dan juga memecah-belah gerakan juga yang selama ini menjadi satu daya tawar juga bagi mahasiswa dalam menyuarakan kepentingan publik," kata dia.

Mahasiswa perlu terus mengawal perkembangan wacana Partai Mahasiswa Indonesia ini. Risiko kooptasi identitas mahasiswa oleh satu partai politik perlu dihindari. Dia ragu dengan Partai Mahasiswa Indonesia tersebut dan menilai kemunculan partai itu bisa jadi dimaksudkan untuk menjinakkan mahasiswa.

"Saya pikir kalau kita perlu skeptis dan waspada, kita bisa menganggap bahwa ini adalah satu agenda yang seakan-akan memang disusun untuk menjinakkan taji yang selama ini disuarakan mahasiswa maupun rakyat, kemudian berusaha dianggap seakan-akan yang didengarkan adalah yang di parlemen dan yang lain tidak usah bersuara. Upayanya adalah mewadahi demokrasi tapi meredam demokrasi lain," tutur Khalid.

Simak juga 'Demo 21 April, Mahasiswa Bawa Tujuh Tuntutan ke Presiden Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)