Waket MPR Bicara Peranan Generasi Muda dalam Transformasi Digital

Atta Kharisma - detikNews
Rabu, 20 Apr 2022 21:09 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: Tangkapan Layar
Jakarta -

Kehadiran jaringan digital memungkinkan kaum muda untuk melakukan eksplorasi di berbagai bidang. Transformasi digital juga memudahkan kaum muda menggunakan setiap platform digital untuk berbagi ide dan kreativitas.

Demikian disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertemakan 'Peran Kaum Muda dalam Transformasi Digital di Indonesia' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 bekerja sama dengan Y20 Indonesia 2022. Diskusi tersebut menghadirkan Direktur Sparklabs Universitas Pelita Harapan Radityo Fajar Arianto sebagai moderator, Komisaris Telkomsel Yose Rizal, Founder INAmikro Debbie R. Tampubolon, Y20 Indonesia 2022 Delegate Indonesia Marcel Satria dan Head of Data Analytical and Digital Products, Jakarta Smart City Juan Kanggrawan sebagai narasumber.

Selain itu hadir pula, Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional H. Ilham Akbar Habibie, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis/FEB UI, Co- Founder CIS dan Planet Inovasi Foundation Avanti Fontana dan Penggiat Budaya/Wasekjen DPP Partai NasDem Jakfar Sidiq sebagai penanggap.

"Panduan etis yang bersumber dari nilai-nilai kebangsaan harus menjadi acuan seluruh generasi hari ini dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi untuk mewujudkan SDM berkualitas dan berdaya saing di masa depan," ujar Lestari dalam keterangannya, Rabu (20/4/2022).

Terlepas dari potensi tersebut, Lestari mengungkapkan tak sedikit kaum muda yang menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk tujuan tertentu yang berlawanan dengan hukum.

Ia menjelaskan kemajuan teknologi dapat membuat kaum muda terhanyut dalam arus perubahan, terbiasa menularkan distorsi informasi, hingga terlibat dalam gerakan tertentu yang merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Karenanya, pengenalan terhadap teknologi digital harus turut dibarengi tata kelola serta perundang-undangan di sejumlah lini kehidupan memasuki era digital saat ini dan masa yang akan datang.

Dengan begitu, generasi muda akan memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang dapat menjadi fondasi utama dalam memanfaatkan transformasi digital dan teknologi demi menunjang kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, Yose berpendapat pengembangan teknologi dan digitalisasi menjadi keharusan untuk menghadapi gelombang digital disruption yang terjadi saat ini. Terlebih, selama pandemi COVID-19 terjadi perubahan perilaku konsumen yang mempercepat terjadinya digital adoption. Semua sektor dituntut untuk adaptif terkait perubahan tersebut.

Ia mengakui selama pandemi COVID-19, hampir sebagian besar digital service mengalami kenaikan, baik dari sisi subscriber maupun konsumsi data. Menyikapi kondisi itu, institusinya sudah memulai program transformasi secara serius pada 3-4 tahun lalu dengan berfokus pada transformasi dari sisi manusia, proses dan teknologi.

Yose menegaskan mengubah orang dari sisi perubahan mindset, budaya perusahaan dan membangun kapabilitas adalah hal terpenting dalam upaya transformasi teknologi digital.

Tantangan dalam Transformasi Digital

Founder INAmikro Debbie R. Tampubolon mengemukakan hal tersulit dalam transformasi digital adalah mengubah mindset orang yang akan menjalankan transformasi tersebut. Hal ini turut dialami oleh INAmikro yang berupaya menjembatani bisnis mikro dengan perbankan lewat proses digital.

Ia menuturkan sektor usaha mikro dan ultra mikro belum mandiri dalam permodalan. Kondisi tersebut menyebabkan digital fobia dan digital trauma ketika para pengusaha mikro berupaya mengakses modal di luar perbankan.

Akibatnya, ketika INAmikro berupaya untuk menjembatani para pedagang pasar dengan perbankan lewat teknologi digital, mereka harus melakukan edukasi satu per satu secara intensif untuk memahami proses permodalan secara digital.

Sementara itu, Marcel Satria mengungkapkan potensi ekonomi digital akan terus berkembang. Di Indonesia, kalangan muda cukup mendominasi saat ini dengan 60% kelompok milenial dan 28% kelompok gen Z. Hal tersebut membuat generasi muda memiliki peluang besar dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi digital.

Sayangnya, ungkap Marcel, dari sisi pemanfaatan ekonomi digital oleh para pekerja Indonesia saat ini masih kurang. Meski potensi ekonomi digital Indonesia besar pergerakan ekonomi digital Indonesia cenderung ke arah konsumtif dan kurang produktif.

Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Ilham Akbar Habibie menekankan perlunya penguatan hard skill, soft skill serta interpersonal skill dari generasi muda dalam melaksanakan transformasi digital. Ia menilai digitalisasi membuka peluang bagi Indonesia di berbagai sektor lingkungan dan industri kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, Juan Kanggrawan menegaskan pemuda harus menjadi agen perubahan dalam transformasi digital. Ia menjelaskan dalam pengembangan smart city network, diperlukan layanan yang terintegrasi dengan memanfaatkan eco system digital. Dalam konteks tersebut, generasi muda tidak hanya harus memahami teknologi tetapi juga bagaimana teknologi itu bisa berdampak secara nyata pada keseharian.

Di sisi lain, Avanti Fontana menilai sejumlah masukan dari berbagai pihak bisa menjadi dasar membuat grand desain transformasi digital Indonesia. Menurutnya, berbagai masukan tersebut bisa menjadi dasar untuk menjawab secara kolaboratif bagaimana model bisnis transformasi digital yang bisa diterapkan di Indonesia.

Sedangkan, Wakil Sekjen DPP Partai NasDem Jakfar Sidiq menegaskan untuk merealisasikan transformasi digital, diperlukan transformasi mindset dan skill.

Di lain pihak, Saur Hutabarat menilai perlunya campur tangan negara untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia. Ia mengimbau agar pemerintah mensubsidi masyarakat yang belum memiliki gadget dan wifi agar mereka bisa memanfaatkan teknologi digital.

Saur juga menambahkan kehadiran generasi muda sebagai katalisator dalam transformasi digital sangat dibutuhkan. Guna mempercepat proses transformasi digital, di lingkungan keluarga dan pendidikan harus selalu dibangun capacity agility setiap anggota keluarga, agar mampu beradaptasi dengan cepat dengan dunia digital tanpa kehilangan keseimbangan.

(akn/ega)