Dosen Paramadina Sebut 2 Cara Sukseskan Sikap Toleransi di RI

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 19 Apr 2022 14:43 WIB
Ilustrasi Hidup Toleran
Foto ilustrasi toleransi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Dosen Univesitas Paramadina yang juga Direktur PUSAD Paramadina Ihsan Ali Fauzi mengungkapkan dua cara toleransi bisa dijalankan. Apa saja?

Hal itu dikatakan Ihsan Ali saat menjadi pembicara di acara diskusi Twitter Space Universitas Paramadina dengan tema 'intoleransi, musuh bangsa, musuh bersama, membangun kesalehan sosial', pada Senin (18/4). Diskusi ini membahas tema seputar intoleransi.

Menurut Ihsan, cara pertama adalah kesediaan untuk memberi izin kepada orang lain terutama kepada kelompok lemah yang bisa ditoleransi keberadaannya. Kedua, yaitu saling menghormati.

"Kedua, saat ini sudah ada payung dari segi kehidupan sebagai kewarganegaraan modern. Dengan perlindungan sebagai warga negara, maka seseorang meski lemah tetap mendapatkan toleransi karena berkedudukan sejajar sebagai sesame warga negara. Posisi sesama warga negara menjadi saling menghormati sebagai sesama warga negara meskipun memiliki perbedaan," kata Ali dalam keterangan tertulis, Selasa (19/4/2022).

Ali mengatakan variabel yang dianggap paling kuat untuk menjadikan seseorang toleran atau tidak, adalah pada sisi perception of trap, aspek psikologis, kata Ali, menjadi salah satu sikap prediktor paling kuat.

Hal senada dikatakan Ketua Pelaksana Badan Pembina Yayasan Paramadina Dr Ahmad Ganis, dia mengatakan masalah intoleransi terjadi karena ada beberapa masalah seperti perbedaan pandangan politik tidak hanya di kalangan atas, tetapi juga di akar rumput.

Tidak hanya perbedaan pandangan politik yang bisa memicu masalah, tetapi juga perbedaan pandangan agama, suku bangsa, atau berbeda karakter atau alur karir yang berbeda. Ganis kemudian mengungkapkan metode penyelesaian masalah intoleransi dan radikalisme.

"Metode penyelesaian masalah intoleransi dan radikalisme dengan model symptomatic therapy, wether dengan approach-approach kekuasaan, approach transaksional tidak akan menyelesaikan masalah. Api dalam sekam tetap ada. Justru semua perbedaan harus dibangun dengan pendekatan-pendekatan batiniah yaitu dengan saling asah, asuh, dan saling asih. Itulah filosofi bangsa yang semestinya terus diterapkan oleh bangsa Indonesia," kata Ahmad Ganis.

Menurut Ganis, watak toleransi harus dimulai dari diri kita sendiri dan diterapkan pada lingkungan. Karenanya, kaum cendekiawan dinilai harus terjun ke desa dan pelosok untuk memerangi kebodohan, kemiskinan dan memajukan pendidikan rakyat di pelosok Indonesia.

"Sikap pesimistik dan membiarkan segala permasalahan radikalisme dan intoleransi kepada pemerintah adalah sikap berbahaya untuk kesatuan bangsa," tegasnya.

Lebih lanjut, Guru Besar Universitas Paramadina Prof Abdul Hadi menilai Indonesia beruntung memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sebab, semua dipersatukan oleh kebhinekaan.

"Sebagian besar bangsa kita punya ras Autronasia, berbeda dengan masyarakat di Amerika atau Malaysia. Indonesia punya rumpun yang sama meski terdiri dari berbagai etnis. Kemerdekaan Indonesia juga diikat tali persatuan, diikat juga oleh bahasa nasional yang sama, yang berhasil mempersatukan masyarakat," tutur Abdul.

Kemudian, lanjut Abdul, agama di Indonesia juga menjadi alat mempersatukan dan bukan alat pemecah belah. Pesan-pesan dalam Al Quran juga dinilainya mempersatukan.

Dia pun menyoroti masalah yang ada saat ini. Dia menilai masalah datang karena perbedaan cara pandangan pada suatu hal.

"Islam dan nasionalisme terus saja dipertentangkan. Seolah jika Islam maka tidak nasionalis dan seorang nasionalis bukan Islam. Pada era Nasakom, yang memaksa bangsa melulu berbicara dalam Bahasa politik, padahal pandangan agama juga faktor yang amat kaya mempersatukan etnis-etnis yang ada. Politik dikotomi juga terus merambah ke bidang etnis Jawa dan non Jawa, juga militer dan sipil," pungkas Abdul.

Lihat juga video 'Potret Toleransi di Jepara, Gereja-Masjid Berhadapan Pengurusnya Kakak-Adik':

[Gambas:Video 20detik]



(zap/gbr)