Sidak Takjil di Benhil Jakpus, BPOM Temukan Jajanan Berbahan Formalin

Anggi Muliawati - detikNews
Rabu, 13 Apr 2022 18:23 WIB
Tes kimia kandungan formalin di makanan. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi Kandungan Formalin (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta melakukan pemeriksaan jajanan berbuka puasa atau takjil yang ada di sepanjang Jl Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hasilnya, BPOM Jakarta menemukan sejumlah jajanan yang mengandung bahan berbahaya.

Kepala BPOM Jakarta Susan Gracia Arpan mengatakan, dari sejumlah sampel jajanan yang diuji coba, ada dua jajanan yang mengandung bahan formalin dan rhodamin B, yaitu tahu aci dan es pacar cina.

"Dari 55 sampel tadi relatif 53 memenuhi persyaratan, jadi relatif aman hanya memang ada dua yang tidak memenuhi persyaratan, yaitu tahu aci yang mengandung formalin dan es pacar cina yang berwarna merah itu mengandung rhodamin B di laboratorium keliling kami," katanya kepada wartawan di Jl Benhil, Jakpus, Rabu (13/4/2022).

Susan mengatakan jajanan tersebut langsung diturunkan dari dagangan. Kemudian para pedagang itu diberikan pembinaan.

"Terhadap barang yang tidak memenuhi syarat ini tadi sudah langsung dilakukan pembinaan, diturunkan dari tempat dagangannya diberi pembinaan, dan kita tadi mencoba menelusuri sumber pendapat tahunya dari mana," katanya.

Susan mengatakan pihaknya akan terus menelusuri produsen tahu tersebut. Hal itu guna tidak ada laginya jajanan yang mengandung bahan berbahaya.

"Ya nanti itu akan kita telusuri mereka mengambil bahan bakunya dari mana akan kita telusuri kita juga, kan ada program pasar aman berbasis komunitas jadi kita punya kader-kader di pasar aman, kita ada kolaborasi untuk menelusuri barang-barang berbahaya yang masuk ke dalam pasar, kita tes," katanya.

Lebih lanjut, Susan mengatakan jajanan yang mengandung bahan berbahaya tersebut dapat mengakibatkan sejumlah penyakit. Dia menyebut pihaknya akan terus memberikan edukasi kepada para pedagang.

"Ya memang bisa terjadi iritasi lambung, untuk jangka panjang bisa terjadi kanker jadi makanya kita banyak melakukan edukasi bekerjasama dengan dinas-dinas," katanya. (isa/isa)