Cegah Takjil Mengandung Zat Berbahaya, PKS Minta Sidak Digencarkan

ADVERTISEMENT

Cegah Takjil Mengandung Zat Berbahaya, PKS Minta Sidak Digencarkan

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 08 Apr 2022 22:55 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI fraksi PKS Netty Prasetiyani
Netty Prasetiyani (Foto: dok. Istimewa/foto diberikan narasumber)
Jakarta -

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS, Netty Prasetiyani, meminta pemerintah intens mengawasi peredaran makanan dan minuman pada bulan Ramadan. Netty menyebut sidak perlu dilakukan guna mencegah adanya takjil yang mengandung zat berbahaya.

"Masyarakat Indonesia cenderung lebih konsumtif saat bulan Ramadan. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan berlipat," ujar Netty dalam keterangan tertulis, Selasa (8/4/2022).

Netty meminta pemerintah melakukan sidak di pusat penjaja makanan saat Ramadan. Hal itu, kata dia, agar takjil bebas dari bahan berbahaya.

"Sidak harus dilakukan di pusat-pusat penjaja makanan, baik di kota maupun di daerah. Pastikan makanan takjil dan makanan siap saji yang beredar di pasaran bebas dari bahan-bahan berbahaya," katanya.

Menurut Netty, peredaran makanan yang mengandung zat berbahaya masih terjadi di masyarakat. Menurutnya, masyarakat masih banyak yang tidak paham dengan makanan yang mengandung zat berbahaya itu.

"Tingginya peredaran makanan dan minuman yang mengandung zat-zat berbahaya karena masih ada pembelinya. Masih banyak masyarakat yang tidak paham dan tidak bisa mengenali makanan yang mengandung zat bahaya tersebut," katanya.

"Masyarakat yang teredukasi tentang pangan aman dan sehat dapat mengenali adanya bahan berbahaya melalui warna, bau, maupun kekenyalan makanan. Tentu juga dengan memerhatikan kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsanya," ungkapnya.

Salah satu penyebab kasus keracunan makanan yang kerap terjadi, kata Netty, adalah kurangnya pengetahuan dan ketelitian konsumen terkait makanan sehat dan aman. Oleh sebab itu, Netty meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan kepada para pelaku usaha.

"Selama pandemi banyak pelaku usaha yang sepi pembeli sehingga produk tersisa banyak. Nah, jangan sampai produk kedaluwarsa beredar di pasar-pasar dan bahkan masuk pada parsel Lebaran," tutur Netty.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT