ADVERTISEMENT

Usul G20 di RI Ditunda Tahun Depan Disarankan Dibahas Bareng Negara Lain

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Minggu, 10 Apr 2022 11:27 WIB
G20: Negara Barat ancam boikot KTT G20, upaya lobi Indonesia diragukan berhasil dan diminta tetap netral
Foto: BBC World
Jakarta -

Usul agar KTT G20 di RI ditunda ke tahun depan mencuat buntut polemik kehadiran Rusia. Keputusan soal apakah KTT G20 di Bali jadi tahun ini atau ditunda disarankan dibahas bersama negara G20 lainnya.

Wakil Ketua Komisi Kajian MPR Martin Hutabarat, yang sempat mengusulkan gelaran KTT G20 ditunda, mengingatkan pelaksanaan KTT G20 jangan dipandang seolah Pemerintah RI memiliki masalah dengan Amerika dan negara lain. Martin mendorong keputusan soal pelaksanaan KTT G20 tersebut diserahkan kepada negara-negara anggota.

"Jadi atau tidaknya KTT G20 di Bali tahun ini jangan dipersepsikan seolah-olah ini jadi persoalan Indonesia dengan Amerika dan negara-negara lain. Kita serahkan saja kepada anggota G20 sendiri yang akan memutuskan apakah KTT G20 ini jadi dilaksanakan tahun ini di Bali atau ditunda ke tahun depan," kata Wakil Ketua Komisi Kajian MPR Martin Hutabarat kepada wartawan, Minggu (10/4/2022).

Martin mewanti-wanti pemerintah tak gegabah menyikapi permasalahan tersebut lantaran dapat berdampak pada kepentingan dan keutuhan negara. Menurutnya, dunia tahu bahwa Indonesia hanya ketiban sial.

'Kita tidak boleh bersikap dan bertindak terlalu jauh, sebab ini bisa berdampak pada kepentingan dan keutuhan negara kita. Semua negara-negara lain juga tahu bahwa Indonesia hanya ketiban sial saja," katanya.

Lantas, lanjut Martin, polemik pelaksanaan KTT G20 bukan disebabkan oleh Pemerintah RI yang didapuk sebagai tuan rumah. Menurut dia, penolakan terhadap kehadiran Putin oleh Amerika dan sekutunya dilatarbelakangi invasi Rusia ke Ukraina.

"Bukan karena Indonesia sebagai tuan rumah maka muncul penolakan. Bagi Amerika dan sekutunya, menolak kehadiran Putin dan mengucilkannya, serta berusaha mengeluarkan Rusia dari ekonomi global adalah balasan terhadap tewasnya puluhan ribu orang tentara dan rakyat Ukraina. Hampir 5 juta mengungsi ke LN, jutaan keluarga berpencar terpisah satu sama lain dan hancurnya puluhan kota-kota di Ukraina," ujarnya.

Politikus Partai Gerindra itu menilai invasi tersebut melukai rasa kemanusiaan sejumlah negara. Dia menyebut Pemerintah RI tak memiliki pandangan serupa, melainkan hanya melihat konflik Rusia dan Ukraina sebagai permasalahan kedua negara tersebut semata.

"Bagi rakyat negara tersebut, terutama Eropa, hal ini sangat peka karena mengusik rasa kemanusiaannya. Inilah akar persoalan KTT G20 di Bali. Hal ini saya lihat agak berbeda dengan Indonesia yang cenderung melihat invasi Rusia ini sebagai persoalan Rusia dan Ukraina saja," kata dia.

Menurutnya, sulit membayangkan Barat duduk berdampingan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di forum internasional saat ini. Dengan demikian, dia menegaskan kembali usulannya agar gelaran KTT G20 ditunda pada tahun depan.

"Oleh karena itu selama invasi Rusia terhadap Ukraina belum berhenti, sulit membayangkan Presiden Amerika dan sekutunya duduk berdampingan, berfoto bersama dengan Presiden Rusia dalam suatu forum apapun dalam waktu dekat ini," katanya.

"Itu sebabnya kita menyarankan, supaya tidak ada yang kehilangan muka, agar Indonesia mengusulkan kepada anggota G20 supaya KTT G20 di Bali tahun ini ditunda ke tahun depan. Ini lebih realistis bagi kita maupun semua negara-negara anggota G20," imbuhnya.

(fca/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT