ADVERTISEMENT

Kemlu Respons Usulan G20 Diundur: 2023 Sudah Ada India

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 07 Apr 2022 16:01 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah
Teuku Faizasyah (Foto: dok. Kemlu)
Jakarta -

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Teuku Faizasyah, merespons usulan penundaan penyelenggaraan KTT G20 di Bali pada November mendatang. Menurutnya, ditunda atau tidak, G20 akan menimbulkan tantangan tersendiri bagi Indonesia.

"Setidaknya yang perlu kita sama-sama catat bahwa G20 ketentuannya akan bergantian, dengan demikian opsi penundaan atau tidak melaksanakan amanat yang diberikan kepada Indonesia akan menimbulkan tantangan tersendiri, karena untuk tahun 2023 sudah ada India yang menjadi ketua G20 selanjutnya," kata Faizasyah dalam jumpa pers virtual, Kamis (7/4/2022).

Menurutnya, usulan penundaan G20 menimbulkan kompleksitas. Sebab, kata Faizasyah, setiap tahun sudah ada negara yang akan menjadi presidensi G20.

"Dengan demikian, ada kompleksitas apabila ada satu kebijakan untuk tidak menyelenggarakan G20 pada kurun waktu tertentu. Bagaimana menundanya, karena artinya kalau kita menunda kita geser ke tahun yang akan datang, sementara itu tahun yang akan datang sudah ada presidensi G20 yang akan dipimpin oleh India," ujarnya.

Lebih lanjut Faizasyah mengatakan usulan berkaitan dengan G20 masih sangat dinamis untuk dibicarakan. Dia berharap G20 di Bali tetap terlaksana padaNovember mendatang.

"Namun ini adalah hal-hal yang sangat dinamis hal-hal yang belum pernah dihadapi G20 sebelumnya, kita melihat saja ke depannya seperti apa, karena menunggu November masih ada beberapa bulan yang kita jalani dan demikian harapannya cukup ada dinamika yang mengarah pada satu kesepakatan bersama untuk tetap menjalankan apa yang menjadi kesepakatan waktu bagi penyelenggaraan G20 di bawah presidensi Indonesia," imbuhnya.

Usulan G20 Ditunda

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi Kajian MPR Martin Hutabarat mengusulkan penyelenggaraan KTT G20 diundur ke 2023. Martin berbicara soal potensi ketidaklengkapan negara yang hadir jika G20 tetap digelar pada 2022.

Hal itu berkaitan dengan kehadiran Presiden Rusia Putin. Beberapa negara, dari Amerika hingga Kanada, menolak Putin diikutsertakan.

"Kemarin PM Kanada sudah meminta Indonesia tidak mengundang Putin ke KTT G20 di Bali. Keinginan Kanada ini sama dengan Amerika dan Australia yang sudah lebih dulu meminta agar Presiden Rusia Putin tidak diikutkan dalam KTT G20 di Bali," kata Martin, Sabtu (2/4).

Martin mengusulkan penyelenggaraan G20 ditunda. Menurutnya, penundaan itu lebih baik dibanding tetap diselenggarakan, namun hanya sedikit negara yang hadir.

"Kita menyarankan agar Indonesia dengan hati-hati mempersiapkan opsi kedua sambil tetap menjaga independensinya, yaitu mengusulkan kepada negara-negara anggota G20 agar KTT G20 Oktober 2022 ini diundur ke tahun depan. Ini jauh lebih realistis dilakukan dari pada memaksakan pelaksanaan KTT tapi diboikot oleh mayoritas anggotanya. Ini akan mempermalukan Indonesia juga sebagai tuan rumah," tuturnya.

Lihat juga video 'AS Ogah Hadir G20 Jika Ada Rusia, Bagaimana Sikap Indonesia?':

[Gambas:Video 20detik]

(dek/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT