Tangis Cucu Kakek Sukarno di Cilincing, Rumah Kumuh dan Kerap Dihina Miskin

ADVERTISEMENT

Tangis Cucu Kakek Sukarno di Cilincing, Rumah Kumuh dan Kerap Dihina Miskin

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 09 Apr 2022 19:11 WIB
Jakarta -

Di dalam kawasan permukiman Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, terdapat rumah petak ukuran 2x4 m persegi yang dihidupi Kakek Sukarno (77) dan dua cucunya, yaitu Sofi (10) dan Arafah (4). Rumah ini begitu mencolok, bukan lantaran kemewahannya, melainkan rumah ini tampak begitu kumuh. Untuk masuk saja harus menunduk karena tinggi pintu lebih rendah dari rata-rata.

Di dalamnya terserak banyak barang dan tumpukan baju. Sempit dan tanpa ventilasi membuat rumah ini terasa begitu pengap. Kondisi rumah yang seperti ini juga membuat Kakek Sukarno mengalami sesak napas, namun belum jelas penyakit jantung atau paru yang dideritanya.

SukarnoKakek Sukarno dan cucu (Foto: Sukarno)

Sesak napas ini juga sering terjadi, apalagi jika dia banyak bergerak. Kalau sudah begini, dia hanya mengandalkan sebotol tabung oksigen pemberian donatur yang dia hirup dalam-dalam.

"Paru-paru bilangnya kronis tapi waktu di ICU nggak ada apa-apanya, disuruh pulang, sampai sini kambuh lagi. Alhamdulillah sampai sekarang sendirian dikasih penyakit begini, mana ditingalin cucu tiap hari nangis minta makan jajan," kata Kakek Sukarno kepada tim berbuatbaik.id CTARSA Foundation.

Kakek Sukarno adalah penopang cucu-cucunya setelah sang anak tak kembali karena mencari nafkah, sedangkan istrinya meninggal 2 tahun lalu. Kakek Sukarno menggantungkan hidupnya dari memulung botol-botol plastik yang hanya laku Rp 10 ribu untuk 2 kilogram botol plastik. Sehari-hari dia dibantu para cucunya mengitari permukiman Cilincing mengais-ngais tempat sampah dan mencari yang bisa dijual.

"Tapi kalau lagi sesek gini, emang susah banget buat kerja buat nyari uang sendiri. Kemarin abis nyari, waktu bulan Haji itu semaleman nyesek banget. Terus sampai sekarang nggak berhenti-henti. Kadang makan dua kali sehari, kadang makan nasi dua hari sekali. Kadang tiga hari baru ketemu nasi, yang penting cucu kita. Ya gimana nasib kita kayak gini, ya terima aja," ucap Kakek Sukarno pasrah.

Cucunya, Sofi, pun sering membantu sang kakek setelah putus sekolah 2 tahun lalu. Sofi memendam keinginan bisa kembali ke sekolah, namun administrasi sekolah memberatkannya. Di waktu senggang, seperti anak lainnya, Sofi biasa bermain. Meski terlihat ceria, Sofi nyatanya sedih akan keadaan.

"Sofi sih penginnya Kakek sembuh. Di rumah itu, Sofi nggak betah karena sempit. Kadang-kadang suka dihina, katanya Sofi miskin," tutur bocah ini menangis.

Kakek Sukarno dan dua cucunya cuma bisa menerima nasib. Penyakitnya pun dia biarkan karena jika dia dirawat di rumah sakit, Kakek Sukarno bingung siapa yang akan merawat cucunya ini. Dia punya harapan agar kelak hidupnya lebih baik dan dirinya bisa tetap kuat menopang hidup dua cucu yang masih kecil.

SukarnoCucu Kakek Sukarno (Foto: Sukarno)

Sahabat Baik punya kesempatan untuk berbagi di bulan yang penuh berkah ini. Kamu bisa menyisihkan sebagian rezekimu agar kehidupan Kakek Sukarno dan cucunya membaik. Dia ingin rumah yang layak dan juga sembuh dari penyakit sesaknya.

Caranya dimulai dengan donasi lewat berbuatbaik.id CTARSA Foundation lewat LINK BERIKUT INI.

SukarnoRumah Kakek Sukarno

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika kamu berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

(imk/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT