Usut Dugaan Penipuan Jam Rp 77 M, Polisi Sebut Terlapor Berada di Luar Negeri

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Rabu, 06 Apr 2022 13:20 WIB
Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan menyampaikan perkembangan kasus dugaan penipuan jam mewah Richard Mille senilai Rp 77 miliar. Whisnu mengatakan terlapor atas nama Richard Lee berada di luar negeri.

"Masih lidik karena locus, modus, tempus, dan terlapor ada di luar negeri," kata Whisnu saat dimintai konfirmasi, Rabu (6/4/2022).

Whisnu mengatakan pihaknya bakal bekerja sama dengan Interpol. Dia menegaskan proses penyelidikan harus dilakukan dengan akuntabel.

"Iya (kerja sama dengan Interpol), harus benar dan profesional serta akuntabel dalam proses lidiknya. Jangan sampai salah penanganannya," katanya.

Sementara itu, kuasa hukum Tony Sutrisno, Hasbullah Nasution, mengatakan hari ini pihaknya menyerahkan bukti tambahan ke Bareskrim. Bukti tersebut adalah tambahan dua buah jam yang tak disertai sertifikat.

"Jadi yang kita laporkan itu sekarang empat jam. Kan ada dua jam yang tidak diberikan sama sekali, ada lagi jamnya dikasih sertifikatnya nggak dikasih. Jadi makanya klien kita itu sudah datang ke sana beberapa kali untuk menanyakan sertifikatnya, cuma tanggapannya ngambang, tidak jelas, mau nggak mau klien kami menempuh jalur hukum," katanya di gedung Bareskrim.

Hasbullah terus berkoordinasi untuk rencana pemanggilan terhadap pihak Richard Mille. Menurutnya, ada pihak lain yang terlibat, yakni Noerdin Cuaca, yang merupakan pemilik Richard Mille.

"Nah, ini kita lagi koordinasi kapan pihak Richard Mille dipanggil. Sebenarnya yang bertanggung jawab kan Noerdin Cuaca sebagai owner dari Richard Mille. Richard Lee juga," ujarnya.

Sebelumnya, seorang pengusaha Tony Sutrisno membeli dua jam mewah merek Richard Mille seharga Rp 77 miliar. Namun nahas, dua jam tersebut belum diterimanya hingga sekarang.

"Nilainya untuk yang Black Sapphire harganya Rp 28 miliar, Blue Sapphire Rp 49 miliar, jadi totalnya sekitar Rp 77 miliar," kata kuasa hukum Tony Sutrisno, Royandi Haichal, dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Kamis (31/3).

Laporan itu telah dibuat pada 28 Juni 2021 yang teregister di nomor STTL/265/VIL2021/BARESKRIM.

Royandi mengatakan Tony memesan kedua jam itu pada 2019 dengan sistem pre-order, dan bisa diterima pada 2021. Royandi menyebut keduanya sudah dilunasi oleh Tony, bahkan terdapat kelebihan pembayaran.

"Pak Tony sudah transfer sekitar Rp 78 miliar, jadi ada kelebihan dari harga yang sudah ditentukan," katanya.

Selain itu, pihaknya sudah melayangkan somasi ke pihak Richard Mille sebanyak dua kali. Pada akhirnya somasi itu dijawab oleh PT Royal Mandiri Internusa. Namun pada jawaban tersebut dijelaskan bahwa tidak terdapat adanya dua transaksi jam senilai Rp 77 miliar itu.

"Malah kita sampai dua kali somasi nggak digubris, dan baru kemarin ada tanggapan dari lawyer-nya kalau dia mau membawa nama PT, bukan Richard Millie Jakarta, PT Royal Mandiri Internusa ini berdiri sejak 2017, dan waktu transaksi dua jam ini tidak ada dalam PT tersebut," katanya.

(azh/idn)