Pupuk Kaltim Fasilitasi Milenial Berkarir & Berkarya di Bidang Pertanian 

Dea Duta Aulia - detikNews
Rabu, 06 Apr 2022 10:08 WIB
Pupuk Kaltim
Foto: Pupuk Kaltim
Jakarta -

Serapan tenaga kerja khususnya dari generasi milenial pada sektor pertanian masih sedikit. Secara angka industri pertanian hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 19,18% saja dari total 64,92 juta penduduk kelompok usia muda Indonesia.

Padahal jika dibandingkan dengan bidang lain, Badan Pusat Statistik 2021 menyebutkan sektor lain masih lebih banyak menyerap tenaga kerja dari kelompok usia muda. Sebagai gambaran sektor manufaktur mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 25% dan jasa hingga 55,8%.

"Saat ini, terdapat dua hal yang jadi tantangan di industri pertanian modern, pertama adalah kurangnya partisipasi generasi muda dalam bidang pertanian, dan kedua dibutuhkannya digitalisasi sektor pertanian yang cenderung masih tradisional," kata Senior Executive Vice President (SEVP) Komersial PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Meizar Effendi dalam keterangan tertulis, Rabu (6/4/2022).

Menurutnya, agar masalah tersebut dapat diatasi generasi muda perlu dilibatkan secara aktif pada sektor pertanian. Salah satu caranya memberikan kepercayaan generasi muda untuk mengisi posisi strategis dalam sektor pertanian. Sehingga mereka bisa berinovasi dan terus berkembang.

"Sebagai salah satu pelaku industri, PKT melihat bahwa kedua tantangan ini dapat dijawab melalui pelibatan peranan aktif para milenial di bidang pertanian. Di PKT sendiri juga sudah diterapkan, dimana sebanyak 70% karyawan kami merupakan talenta milenial dan beberapa bahkan diberi kesempatan untuk memegang posisi strategis. Harapannya, dengan diberikannya ruang untuk berinovasi, keberadaan generasi milenial dapat membawa perubahan yang positif," jelasnya.

Meizar menuturkan upaya untuk mendorong generasi milenial masuk ke sektor tersebut pun terus dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satunya melalui pelibatan generasi milenial dalam pembangunan sektor pertanian yang telah menjadi bagian dari Rencana Strategis Kementerian Pertanian (Renstra Kementan) 2020‒2024.

"Kementan juga telah mengadakan program bootcamp bertajuk Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Bersama pelaku industri seperti PKT, program bootcamp tersebut diadakan guna mencetak pengusaha tani muda di seluruh Indonesia sebagai upaya regenerasi serta meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor pertanian," katanya.

Ia menambahkan, sebenarnya masih banyak potensi yang ada di sektor pertanian yang bisa digali dan dimanfaatkan oleh generasi milenial. Serta setidaknya terdapat 3 aspek yang dimainkan oleh generasi milenial pada sektor tersebut, seperti pengembangan teknologi pertanian presisi, Pengembangan teknologi pada mata rantai pertanian, dan Pengembangan pengelolaan ekonomi desa pertanian.

Khusus untuk aspek pertama, generasi milenial yang sudah akrab dengan teknologi bisa berupaya untuk mengembangkan sistem pertanian presisi berbasis teknologi. Sebab saat ini, industri pertanian menghadapi masalah keterbatasan luas lahan dan sumber daya. Oleh karena itu teknologi dibutuhkan untuk menjamin akurasi, presisi, keaslian, dan transparansi.

"Salah satu contoh dari program pertanian presisi yang dimiliki PKT antara lain adalah sistem PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm) sistem berbasis satelit yang dikembangkan bersama dengan tim ilmuwan Indonesia dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan produktivitas hasil pertanian kelapa sawit secara sustainable dalam jangka panjang," jelasnya.

Aspek kedua, generasi milenial yang enggan untuk berperan dalam kegiatan tani langsung bisa diatasi dengan memberikan mereka pengembangan sisi hulu dan hilir pertanian. Sebagai contoh pengembangan proses penjualan atau memasok produk pangan pertanian melalui e-commerce.

Sementara itu aspek ketiga, memiliki pendidikan dan keterampilan dalam memahami teknologi informasi, generasi milenial yang memilih untuk tinggal di pedesaan dapat berperan serta dalam pengembangan dan manajemen kelembagaan ekonomi petani pedesaan berbasis korporasi, baik itu berbentuk perseroan terbatas, Commanditaire Vennootschap (CV), ataupun koperasi.

Potensi-potensi ini tidak cukup jika hanya dikembangkan oleh industri pertanian saja, dukungan dari industri penyokong pertanian seperti pupuk dan petrokimia, turut menjadi poin penting untuk terus mengembangkan usaha para pengusaha tani milenial tersebut.

Meizar menjelaskan pihaknya secara aktif turut mendorong dan memfasilitasi talenta muda di bidang pertanian untuk berinovasi, berkarir dan berkarya. Salah satunya, melalui rangkaian program pembinaan petani muda yang telah dicanangkan perusahaan seperti program PKT menyapa Petani dan program Makmur.

"Keberadaan talenta-talenta muda milenial dalam sektor pertanian patut terus didukung, dibina dan difasilitasi, demi menciptakan industri pertanian yang lebih maju dan modern. Tentu dalam prosesnya akan terdapat berbagai tantangan, namun untuk mengatasinya, diperlukan kolaborasi yang baik dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan talenta muda itu sendiri, guna memaksimalkan potensi dari talenta yang tersedia dan menjaga ketahanan pangan di Indonesia," tutupnya.

(ega/ega)