Guru Besar UI Sayangkan Trudeau Bilang Tak Mau Lihat Putin di G20 ke Jokowi

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Minggu, 03 Apr 2022 06:19 WIB
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi Warga Tanpa Warga Negara di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016)
Guru besar UI Hikmahanto Juwana (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau menyampaikan pandangannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin yang bisa menyulitkan KTT G20 di Bali. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyayangkan sikap Trudeau.

"Penolakan ini senada dengan PM Australia Scott Morrison. Sementara Presiden AS meminta Indonesia untuk mempertimbangkan kehadiran Putin tanpa secara tegas menolak untuk hadir atau tidak bila Presiden Putin hadir," ujar Hikmahanto saat dihubungi, Sabtu (2/4/2022).

"Sikap Trudeau, Morrison maupun Joe Biden seolah telah menghukum Indonesia karena menjalankan prinsip sebagai tuan rumah yang baik. Sikap ini kemungkinan akan diikuti oleh Inggris, Jerman juga Uni Eropa," sambungnya.

Hikmahanto menjelaskan Staf Khusus Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, Triansyah Djani, menyebut bahwa mengundang semua anggota G20 adalah kewajiban seorang Presiden G20, baik pada masa lalu maupun di masa-masa mendatang, termasuk dalam pelaksanaan G20 bulan November di Bali. Keputusan ini dipilih lantaran Indonesia berpegang teguh pada aturan dan prosedur yang berlaku di kegiatan G20.

"Sikap Trudeau seolah memperlakukan Indonesia sama dengan Ukraina saat diserang oleh Rusia, ditinggalkan sendirian untuk memecahkan masalah. Padahal seperti Ukraina yang hendak bergabung dalam NATO, Indonesia sebelumnya telah menuruti kemauan AS dan sekutunya untuk berhadapan dengan Rusia," tutur Hikmahanto.

Hikmahanto menyebut Indonesia padahal telah menjadi co-sponsor, di mana Amerika Serikat menjadi sponsor utama atas Resolusi Majelis Umum PBB untuk mengutuk serangan Rusia. Menurutnya, Indonesia layak dihukum oleh AS dan sekutunya bila suara Indonesia abstain, bahkan menentang Resolusi PBB yang mengutuk Rusia.

"Sikap PM Kanada dan Australia serta Presiden AS seolah tidak berempati dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah G20. Ini mengingat Indonesia telah melakukan berbagai persiapan, bahkan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan di tingkat teknis untuk membahas terobosan bagi tumbuhnya perekonomian dunia," jelasnya.

Lebih lanjut, Hikmahanto kecewa dengan ego AS dan sekutunya yang justru dilampiaskan ke Indonesia, yang sudah berani mengutuk Rusia atas serangannya. Terlebih, Indonesia berisiko kehilangan sahabatnya dan dimasukkan ke dalam kategori negara-negara yang tidak bersahabat oleh Rusia.

Berikut harapan Indonesia terhadap AS dan sekutunya menurut Hikmahanto:

1. Jangan pindahkan konflik dengan Rusia ke Forum G20. Tidak seharusnya pernyataan akan hadir atau tidak disampaikan pada saat ini dan digantungkan pada syarat hadir tidaknya Rusia. Biarkan semua mengalir pada saatnya.

2. Indonesia tidak ingin ditekan dalam mengundang Rusia sebagai anggota G20.Bukannya tidak mungkin bila Indonesia mengikuti kehendak AS dan sekutunya maka Rusia akan mendapatkan dukungan dari China dan mungkin India. Dua negara ini akan bersikap untuk tidak hadir bila Rusia dihalangi untuk hadir.

3. AS dan sekutunya terus mendukung Indonesia sebagai Presiden dan tuan rumah yang baik dalam pelaksanaan event G20 tahun ini. Indonesia tidak ingin masalah geopolitik di Eropa berimbas pada pembahasan perekonomian dunia di masa mendatang. Terlebih dijadikan medan untuk melanjutkan upaya menjatuhkan Putin sebagai Presiden Rusia.

Selanjutnya, komentar Hikmahanto Juwana terkait usulan penundaan KTT G20...

Simak juga 'Rusia Tanggapi Pernyataan Biden soal Ancaman Didepak dari G20':

[Gambas:Video 20detik]