Membebaskan Beban Kalbu

ADVERTISEMENT

Kontemplasi Qalbu (37)

Membebaskan Beban Kalbu

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Minggu, 03 Apr 2022 05:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Qalbu yang over loaded tidak bisa dibiarkan karena akan melahirkan berbagai dampak negatif, termasuk di antaranya stress, yang kalau tidak diatasi akan melahirkan strok, dan pada akhirnya wafat lebih awal dari pada waktu yang diperkirakan dan diharapkan. Agama apapun mengajarkan dan mengajak umatnya untuk meninggalkan beban qalbu berlebihan. Khusus dalam Islam, ada ilustrasi di dalam Al-Qur'an bagaimana melepaskan beban-beban yang menggunung itu bagaikan bulu yang beterbangan (wa takunul jibal kal 'ihnil manfus/Q.S. al-Qai'ah/101:4).

Para ahli manajmen berusaha mencari berbagai macam solusi dalam mengatasi kelebihan beban tadi. Diantaranya yang direkomendasikan ialah mencari dan memilih sebuah tempat yang tenang, mengistirahatkan badan, pikiran, dan jiwa di dalam suasana dan zona nyaman, kalau perlu memutar lagu-lagu instrumentalia atau musik-musik meditasi-spiritual, memejamkan mata tetapi tidak sampai tidur, kita merasakan lembutnya petikan suara-suara melodi atau menikmati rekaman nyanyian burung, suara gemuruh ombak, percikan air macur, atau nyanyian burung-burung malam. Bayangkan seolah kita berada di sebuah taman bunga Charry Blasem yang sedang mekar di lembang ngarai, atau membayangkan kita berada di sela-sela rindangnya pepohonan di sebuah bukit hijau, atau sedang menyaksikan matahari sore sedang tenggelam di peraduannya di sebuah pulau terpencil. Imaginasi atau hayalan seperti ini terkadang diperlukan untuk mengecoh pikiran, perasaan, dan qalbu kita yang sedang galau.


Rencanakan relaksasi di sela-sela tugas, usahakan menghindari kebisingan, pecahkanlah persoalannya tahap demi tahap, tampakkan keindahan dan dekorasi menawan di sekitar kita, jangan terlalu serius bekerja sepanjang hari dan sepanjang masa, jauhi hal-hal yang berlebihan, khususnya alkohol dan obat-obat penenang, dan tentu yang tak kalah pentingnya seringlah tersenyum dan tertawa.


Berusahalah untuk memaafkan dirinya sendiri dengan mengingatkan kita memang bukan malaikat, lupakan berbagai kekecewaan yang menumpuk di qalbu dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan (tawakkal). Kita yakinkan pada diri kita bahwa sesungguhnya Tuhan lebih menonjol sebagai maha Pengampun dan Maha Penyayang ketingbang Maha Pendendam dan Maha Penghukum. Dengan air mata tobat yang kita persembahkan kepada-Nya diharapkan bisa memadamkan api neraka jahanam, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw.


Ucapkan rasa syukur dan terima kasih di mulut dan di dalam hati atas kesadaran yang dikaruniakan kepada kita sebelum ajal menjemput. Rasakan kita seolah-olah menjadi sosok manusia baru, putih cemerlang, dan mengesankan bagi semua. Pada akhirnya kita meninggalkan latihan atau meditasi ini dengan lafaz syukur dan tahmid, alhamdulillah wasy syukru lillah kepada-Nya atas segala karunia yang baru saja diberikan kepada kita. Kita meninggalkan padepokan latihan dengan niat dan baik sangka kepada Allah Swt Than Yang Maha Pemurah, kalau perlu bertekad untuk mengulangi pengalaman serupa di masa-masa mendatang.


Seusai pelatihan (riyadhah) kita belajar mengembangkan hoby dan kebiasaan produktif kita kembali. Sesudah itu buatlah planning untuk mengatur refreshing, kalau perlu bersama keluarga, atau dalam kesempatan lain retreat bersama segenap karyawan tanpa kecuali di kantor. Khusus yang beragama Islam lebih bagus lagi jika ditradisikan untuk berpuasa sunnat Senin dan Kamis atau puasa-puasa sunnat lainnya. Biasakan diri ke masjid untuk shalat berjamaah, mengamalkan sunat-sunat rawatib, baik qabliyyah maupun ba'dhiyyah.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(lus/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT