SIM Card NIK 'Aspal' Dijual di Online Shop, Pelaku Raup Cuan Ratusan Juta

Khairul Ma'arif - detikNews
Kamis, 31 Mar 2022 13:29 WIB
Program registrasi ulang prabayar bagi pelanggan lama, sudah memasuki batas akhir pada hari ini, Senin (30/4/2018).
Foto ilustrasi SIM card. (Rifkianto Nugroho)
Tangerang - Polisi mengungkap perdagangan SIM card atau kartu perdana yang diregistrasi dengan menggunakan data nomor induk kependudukan (NIK) asli tapi palsu (aspal). SIM card dengan NIK aspal ini dijual di sejumlah platform online shop.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Komarudin mengatakan pihaknya menangkap empat tersangka berinisial AN (24), DS (36), AS (24), dan AA (25) di kasus ini. Para tersangka meraup cuan hingga ratusan juta rupiah dari jual-beli SIM card 'aspal' ini.

"Ini merupakan salah satu bagian yakni menggunakan kartu perdana dengan identitas milik orang lain. Kalau dilihat dari stok yang ada keuntungannya bisa ratusan juta," kata Komarudin kepada wartawan, Kamis (31/3/2022).

Menurutnya, penyalahgunaan identitas ini untuk SIM card dilakukan untuk tindakan-tindakan merugikan orang lain. Komarudin menyebutkan penyalahgunaan ini dilakukan untuk menyebar berita bohong ataupun penipuan.

"Ada juga digunakan untuk pengancaman yang digunakan dengan nomor baru dan tidak jelas yang begitu di-detec orangnya berbeda karena identitas orang lain yang digunakan," tambahnya.

Dari total empat tersangka yang ditangkap ini didapati 10.400 buah kartu perdana atau SIM card yang belum terigistrasi.
Sementara total kartu perdana yang belum diregistrasi sebanyak 78.771.

Dari seluruhnya Komarudin merinci dari AN diamankan kartu perdana berbagai provider yang sudah diregistrasi sebanyak 4.800 buah. Kemudian yang belum registrasi sebanyak 73801 buah. Sementara total barang bukti dari tiga tersangka lainnya yaitu DS, AS, dan AA sebanyak 5600 buah kartu perdana yang sudah diregistrasi dan 4900 buah yang belum diregistrasi dari berbagai provider.

"Selain itu, kita juga amankan kemudian flash disk, USB, printer modem, dan laptop ini barang bukti. Seluruh barang bukti kartu perdana siap dijual kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa menggunakan nomor HP yang bukan identitas aslinya. Kerap kali pembelian seperti ini untuk menyebar berita hoax dan penipuan," tutur Komarudin.

Menurutnya, keempat tersangka ini diamankan di dua tempat. Satu tersangka AN ditangkap di Neglasari, sementara tiga sisanya, DS, AS, dan AA, ditangkap di Karawaci.

Komarudin mengungkapkan keempatnya dijerat Pasal 51 ayat 1 jo pasal 35 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, Tentang Informasi dan Transaksi elektronik. Atau Pasal 94 Jo Pasal 77 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2013, Tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

"Dengan pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 12 miliar. Atau dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta," pungkasnya.

Simak juga 'Ribuan SIM Card Teregistrasi Pinjol, Polri 'Colek' Kominfo-Dukcapil':

[Gambas:Video 20detik]



(mei/mei)