2 Prajurit Gugur Diserang KKB, Legislator Dorong Evaluasi Pengamanan Papua

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Senin, 28 Mar 2022 10:58 WIB
Bobby Adhityo Rizaldi
Foto: Bobby Adhityo Rizaldi. (Dok Pribadi).
Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi berduka atas gugurnya 2 prajurit TNI dari insiden penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua. Bobby meminta TNI mengevaluasi protokol patroli atau operasi pengamanan di Papua.

"Kami turut berduka atas gugurnya prajurit TNI dan kepada yang terluka agar bisa dirawat sebaik-baiknya," kata Bobby kepada wartawan, Senin (28/3/2022).

"Saya rasa dengan korban sebegini banyak, dengan rentang pos yang saling berdekatan, jarak 1,2 km dari Polres, perlu suatu evaluasi kembali mengenai protokol patroli ataupun operasi pengamanan di Papua, khususnya di kabupaten-kabupaten yang sudah sering sekali terjadi penyerangan-penyerangan," imbuh dia.

Terkait serangan KKB terbaru, Bobby meminta Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit membahas hal ini lebih jauh. "Panglima TNI dan Kapolri perlu bertemu khusus membahas soal ini," ujarnya.

Dia kemudian memberikan sejumlah catatan. Menurutnya, satuan TNI perlu mengidentifikasi serangan-serangan fatal terhadap prajurit. Selain itu, dia menyoroti soal pemetaan wilayah dan sistem intelijen yang lebih terkoordinasi.

"Perlu diidentifikasi serangan-serangan fatal pada aparat bersenjata kita. Apakah karena pemetaan wilayah dengan eskalasi keamanan tidak dapat terdeteksi, ini perlu sistem intelijen yang lebih terkoordinasi," kata dia.

Bobby juga menyoroti serangan KKB di Papua dengan memakai pelontar granat. Bobby meminta koordinasi pengamanan diperkuat.

"Apakah mobilisasi bila terjadi serangan sulit, ini perlu alkom dan koordinasi antarsatgas pengamanan, atau distribusi persenjataan yang kurang, melihat serangan dengan GLM (grenade launcher module) tidak terlindungi dengan baik, atau hal-hal lainnya," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menyebut para prajurit dan aparat penegak hukum di wilayah konflik rentan menjadi sasaran empuk oleh serangan kelompok bersenjata jika institusi terkait tak mengidentifikasi penyerangan hingga di tataran teknis.

"Bila hal-hal teknis ini tidak teridentifikasi segera dan ada solusinya, seluruh prajurit dan aparat penegak hukum di sana merupakan sasaran empuk dari serangan-serangan sporadis dari kelompok-kelompok bersenjata ini. Dan kita akan terus mendapat kabar duka dan target-target pembangunan di sana menjadi terganggu," ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, KKB pimpinan Egianus Kogoya menyerang Pos Satgas Mupe Yonif Marinir-3 di Nduga, Papua. Akibat kejadian itu 2 orang prajurit TNI gugur.

Insiden itu diketahui terjadi pada Sabtu (26/3) kemarin pukul 17.40 WIT. Total ada 10 orang prajurit TNI yang menjadi korban dari kejadian tersebut.

"Mereka diserang dari berbagai arah hingga menyebabkan jatuhnya 10 korban," kata Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan dilansir dari Antara, Minggu (27/3).

Simak juga 'Panglima TNI Marah, Kebohongan Danki Bikin 3 Prajurit TNI di Papua Gugur':

[Gambas:Video 20detik]



(fca/gbr)