Lomba Free Fly Piala Ketua MPR Diharap Dorong Kesadaran Lindungi Satwa

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 26 Mar 2022 16:38 WIB
Bamsoet Buka Lomba Free Fly Piala Ketua MPR RI
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo membuka lomba Free Fly Piala Ketua MPR RI di Blackstone Beach Bali hari ini. Dalam kesempatan tersebut, Bamsoet mengingatkan soal pentingnya melindungi satwa langka.

Bamsoet menilai upaya konservasi satwa, termasuk burung paruh bengkok semakin memiliki banyak tantangan. Terlebih saat ini habitat asli satwa semakin rusak, baik lantaran faktor alam, maupun faktor campur tangan manusia. Misalnya seperti kegiatan penebangan hutan atau deforestasi yang semakin intens dilakukan.

"Hingga Februari 2020, avi-fauna atau jumlah varietas burung di Indonesia tercatat sebanyak 1.794 spesies. Menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah spesies burung terbanyak keempat di dunia, setelah Kolombia, Peru, dan Brazil. Dari besarnya keragaman avi-fauna yang kita miliki tersebut, 81 jenis di antaranya adalah burung paruh bengkok, dengan persentase terbesar yaitu sebanyak 32 jenis atau hampir 40 persennya hidup di wilayah Maluku," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (26/3/2022).

Terkait lomba Free Fly Piala Ketua MPR RI, Ketua DPR RI ke-20 ini menuturkan lomba ini bukan sekadar euforia dari komunitas pecinta satwa untuk menikmati daya tarik dan pesona burung paruh bengkok. Namun, lanjutnya, acara ini juga sebagai ajang media gathering, silaturahmi, serta saling bertukar informasi antar komunitas pecinta burung paruh bengkok.

"Acara ini harus menjadi bagian dari edukasi untuk menggugah kesadaran dan komitmen masyarakat mengenai pentingnya pelestarian dan perlindungan satwa. Khususnya burung paruh bengkok, yang di alam liar habitatnya semakin terancam. Dengan karakter yang unik dan warna bulu yang mencolok, sebenarnya burung paruh bengkok merupakan satwa yang begitu mudah membuat para pecinta satwa terpesona dan jatuh hati," kata Bamsoet.

Pembina Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia ini pun menambahkan saat ini habitat asli satwa semakin berkurang. Untuk itu, kebijakan konservasi satwa perlu memberikan manfaat optimal bagi perlindungan dan pelestarian satwa. Salah satunya melalui penangkaran yang dilakukan secara institusi kelembagaan, masyarakat, ataupun kelompok masyarakat yang memiliki kecintaan, kepedulian, kompetensi dan kapabilitas.

"Kegiatan penangkaran satwa ini bertujuan untuk melindungi dan merawat satwa, menghindarkan dari berbagai faktor risiko, serta memperlakukan satwa sebagaimana mereka hidup pada habitat aslinya. Dan pada akhirnya, masyarakat terlibat langsung dalam mengembangbiakkan dan menghindarkan satwa yang dilindungi dari ancaman kepunahan," pungkas Bamsoet.

(fhs/ega)