Bamsoet Beri Nama 2 Anak Komodo di Bali Safari Park: Dirgha & Alarik

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 25 Mar 2022 19:43 WIB
Bamsoet di Bali Safari Park
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Pembina Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) Bambang Soesatyo mengapresiasi Bali Safari atas keberhasilannya mengembangbiakkan hewan langka komodo secara alami.

Sebanyak 16 ekor anak komodo menetas tanpa inkubator pada Maret 2022. Dengan tambahan 16 anak komodo, saat ini Bali Safari Park tercatat mempunyai 24 ekor komodo.

"Bali Safari Park merupakan lembaga konservasi satwa pertama di Bali yang berhasil mengembangbiakkan komodo secara alami. Saat ini kondisi semua anakan komodo dalam keadan sehat dan aktif. Dua anak komodo yang ada saya beri nama Dirgha, seperti nama anak bungsu saya dan Alarik, seperti nama cucu sulung saya," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (25/3/2022).

"Dirgha artinya panjang (dalam ukuran ruang dan waktu), tinggi, luas dan dalam. Dirgha juga berarti memiliki kemauan keras, bakat bisnis dan berwibawa. Cermat dalam urusan kebersihan, dapat dipercaya dan gemar menolong. Sedangkan Alarik dalam bahasa Sansekerta, artinya pemimpin dari semua. Alarik dalam bahasa Skandinavia, artinya penguasa semuanya," bebernya.

Hal ini ia sampaikan saat mengunjungi Bali Safari Park di Bali hari ini. Dalam kunjungannya, Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan komodo di Bali Safari Park berkembang biak secara alami. Mulai dari kawin, membuat sarang, bertelur di sarang yang dibuat sendiri, hingga penetasan telur tanpa inkubator.

"Bali Safari Park memang sengaja merawat dan mengembangbiakkan komodo dengan tujuan konservasi. Saat ini bayi-bayi komodo yang masih berusia kurang dari sebulan ini dirawat oleh tim dokter hewan dari Bali Safari Park. Pemberian makanan dilakukan dua kali dalam satu minggu," jelasnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan komodo merupakan kadal terbesar di dunia yang memiliki habitat di Nusa Tenggara Timur. Saat ini, komodo dapat ditemukan di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang dan Padar.

Meski demikian, Lembaga Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menetapkan komodo sebagai spesies yang rentan punah. Adapun kepunahan populasi komodo kerap disebabkan oleh aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat dan perburuan gelap.

"Pemerintah Indonesia telah menetapkan komodo masuk dalam spesies yang dilindungi. Data Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan total komodo di Indonesia pada 2018 sebanyak 2.897 ekor dan pada 2019 bertambah menjadi 3.022 ekor. Kita berharap Bali Safari Park dan lembaga konservasi satwa lainnya dapat terus mengembangbiakan Komodo agar Komodo terhindar dari kepunahan," pungkas Bamsoet.

(fhs/ega)