Tak Punya Kupon, Emak-emak di Pontianak Kecewa Gagal Beli Minyak Goreng Murah

Adi Saputro - detikNews
Sabtu, 19 Mar 2022 16:02 WIB
Eman-emak gagal beli minyak goreng curah murah di Pontianak (Adi Saputro/detikcom)
Emak-emak gagal beli minyak goreng curah murah di Pontianak (Adi Saputro/detikcom)
Pontianak -

Ribuan warga menyerbu operasi pasar murah minyak goreng yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), tadi siang. Banyak emak-emak yang kecewa harus pulang dengan tangan kosong karena gagal membeli minyak goreng curah murah.

Berdasarkan pantauan detikcom, Sabtu (19/3/2022), warga diwajibkan memiliki kupon dan membawa fotokopi kartu tanda penduduk (KTP). Mereka juga membawa jeriken sendiri untuk mendapatkan minyak goreng curah murah dengan harga Rp 11.500 per liter.

Antrean warga membeludak. Pasalnya, ada juga warga yang tak memiliki kupon pembelian minyak goreng curah yang ikut antre, sehingga tidak dilayani.

Adapun kupon itu disebarkan pihak kecamatan melalui kelurahan. Lalu kelurahan menyerahkan kupon-kupon ini kepada ketua RT masing-masing.

Dari ketua RT inilah kupon sampai ke tangan warga yang berhak membeli minyak goreng 5 liter dengan harga Rp 11.500 per liter.

Namun sebaran penerima kupon pembelian minyak goreng ini tak mampu menjangkau secara merata warga. Akibatnya, banyak warga yang tak bisa dilayani karena tak memiliki kupon.

Seperti yang dialami ibu rumah tangga asal Pontianak Timur, Nora. Nora mengaku tidak bisa membeli minyak goreng curah murah karena tidak memiliki kupon.

"Kami di sini juga butuh minyak goreng, tapi kami tidak bisa membeli minyak goreng di sini karena tak memiliki kupon. Janganlah ada perbedaan. Ini yang kami lihat, hanya warga yang memiliki kupon yang bisa membeli minyak goreng. Padahal sebagai warga di sini, kami punya KTP dan KK, otomatis kami berhak juga membeli minyak goreng," keluh Nora.

Hal yang sama dialami Wahyuni, yang juga gagal membeli minyak goreng curah murah karena tidak memiliki kupon. Dia mengaku sempat mengamuk beberapa waktu lalu.

"Kemarin kita pergi di desa, katanya kupon ambil di desa. Saya sudah tiga kali pergi ke desa. Pertama saya ke sana, orang desa bilang tak ada, kedua katanya orang Desa bilang sudah habis. Saya pun ngamuk, barulah orang desa keluarkan dua kupon. Langsung dikasihkan kupon itu. Kupon itu susah didapat," kata Wahyuni.

Akibatnya, sebagian besar ibu-ibu ini rela antre sembari menggendong anaknya walau gagal membeli minyak goreng. Mereka terpaksa pulang kembali ke rumah dengan jeriken kosong.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meminta masyarakat tenang dan tidak panik karena saat ini ketersediaan minyak goreng di pasar sudah mulai ada. Namun dia mengakui harganya memang tidak lagi sama.

"Untuk stok-stok minyak goreng di pasar, sudah mulai ada, namun memang ada perubahan harga. Kenaikan harga seperti yang ditetapkan pemerintah pusat mengikuti harga sesuai mekanisme pasar. Sedangkan operasi pasar minyak goreng yang ini tetap digelar sesuai rencana, per kecamatan dengan harga yang telah ditetapkan produsen sebesar Rp 11.500 per liter. Jadi masyarakat diminta tenang, karena yang penting barangnya ada, karena ini wujud perhatian produsen minyak goreng kepada masyarakat," jelas Edi.

Sementara itu, Kepala Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Pontianak Junaidi menjelaskan, memenuhi semua kebutuhan seluruh masyarakat terhadap minyak goreng memang tidak akan bisa. Karena itu, dalam setiap operasi pasar minyak goreng curah ini, pemerintah bersama produsen sepakat menggelar operasi pasar untuk 6 kecamatan di Kota Pontianak, jauh sebelum adanya penghapusan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan ekonomis.

"Tiap kecamatan di Kota Pontianak dibagi masing-masing 7 ton minyak goreng curah. Hanya bisa melayani pembelian 5 liter per orangnya dengan harga Rp 11.500 per liter. Dari 7 ton tersebut, hanya bisa memenuhi kebutuhan minyak goreng untuk 1.200 orang atau jiwa. Jadi memang tidak bisa memenuhi kebutuhan per orangnya di tiap kecamatan," tutur Junaidi.

(drg/drg)