ADVERTISEMENT

DMI Kritisi Pandangan Gus Mus soal Sebaiknya Tak Semua Masjid Dipakai Jumatan

Dwi Andayani - detikNews
Jumat, 18 Mar 2022 06:39 WIB
Sekjen DMI Imam Addaruqutni. (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Foto: Sekjen DMI Imam Addaruqutni. (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta -

Kiai sepuh yang juga mustasyar PBNU KHA Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus menyarankan tidak semua masjid dipakai untuk salat Jumat atau Jumatan. Dewan Masjid Indonesia (DMI) menilai pandangan Gus Mus kurang sesuai.

Gus Mus awalnya mengatakan pada zaman Nabi Muhammad telah banyak masjid, namun ketika salat Jumat, semua berkumpul di Masjid Nabawi. Sekjen DMI Imam Addaruquthni menilai pernyataan tersebut berbeda konteks dengan tidak dilakukannya salat Jumat di masjid lain.

Imam menjelaskan bahwa satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid lain. Sedangkan di Masjid Al-Haram sama dengan 100 ribu kali salat di masjid lain.

"Beda konteks. Disabdakan Nabi bahwa kalau salat di masjid Nabi (Masjid Nabawi), jadi satu kali salat di Masjid Nabi itu nilainya sama dengan 1.000 kali salat di masjid lain, selain di Masjid Al-Haram yang sama dengan 100.000 kali dibanding salat di masjid lain selain di Masjid Nabi," ujar Sekjen DMI Imam Addaruquthni kepada wartawan, Kamis (17/3/2022).

Dia menilai tidak digelarnya salat Jumat di semua masjid saat zaman nabi bukan karena alasan sebaiknya tidak harus menyelenggarakan Jumatan. Tapi, katanya, umat Muslim saat itu lebih memilih untuk salat di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram.

"Jadi, kalaulah masjid-masjid tidak menyelenggarakan Jumatan tidaklah semata-mata karena sebaiknya tidak harus menyelenggarakan Jumatan akan tetapi lebih memilih berjumatan di Masjid Nabawi atau lebih-lebih di Masjid Al Haram," ujar Imam.

"Namun, wilayah Mekah sendiri atau di kawasan Madinah, pada saat ini banyak masjid yang menyelenggarakan salat Jumat juga," sambungnya.

Imam menilai pandangan Gus Mus tidak sejalan dengan pandangan pengurus masjid di tanah suci. Menurut Imam, pandangan Gus Mus bisa dikategorikan kurang sesuai untuk konteks Indonesia.

"Jadi dalam konteks Indonesia, perspektif pandangan Gus Mus sepertinya tidak sejalan dengan perspektif para pengurus (pemangku masjid) di kedua tanah suci baik Mekah maupun Madinah. Mungkinkah pandangan tersebut bisa dikategorikan kurang atau tidak kontekstual. Wallahualam," ucapnya.

Lihat juga Video 'Jawaban MUI Saat PA 212 Desak Bikin Fatwa Soal Pernyataan Menag':

[Gambas:Video 20detik]



Simak pandangan Gus Mus pada halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT