Polri Ungkap Pemalsuan Oli Berbagai Merek di Jakut-Tangerang

ADVERTISEMENT

Polri Ungkap Pemalsuan Oli Berbagai Merek di Jakut-Tangerang

Mulia Budi - detikNews
Rabu, 16 Mar 2022 00:07 WIB
Pengungkapan kasus pemalsuan oli berbagai merek
Pengungkapan kasus pemalsuan oli berbagai merek (Foto: Mulia Budi/detikcom)
Jakarta -

Polri mengungkap kejahatan pemalsuan oli berbagai merek di wilayah Jakarta Utara dan Tangerang. Satu orang berinisial RP ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

"Dari hasil penyelidikan telah berhasil diamankan 1 orang tersangka inisialnya RP ada di belakang kami saat ini, dari hasil pemeriksaan terhadap yang bersangkutan ditemukan 2 tempat atau 2 lokasi yang menjadi tempat kegiatan pemalsuan oli berbagai merek," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli kepada wartawan, Selasa (15/3/2022).

Gatot mengatakan kegiatan pemalsuan oli ini dilakukan RP sejak 2017. Tersangka menjual oli yang dipalsukan dengan harga di bawah harga pasar.

"Kegiatan ini berdasarkan pengakuan tersangka sudah dilaksanakan sejak tahun 2017 dan hasil dari pemalsuan ini seperti Yamaha lube 20 W-40 oleh yang bersangkutan dijual seharga Rp 25 ribu, kemudian yang Pertamina Enduro itu dijual Rp 20 ribu, Federal Oil itu juga dijual hanya Rp 30 ribu. Jadi rata-rata harga yang dijual adalah di bawah daripada harga yang di pasaran," ujarnya.

Lokasi pemalsuan oli itu berada di Pergudangan Sentra Industri Terpadu, Tahap 1 dan 2 Blok J1 Nomor 09, jalan Pantai Indah Barat, RT 04 RW 03 Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara.

Lokasi kedua berada di Kompleks Pergudangan Arcadia Blok G 17 Nomor 8, Kelurahan Batu Ceper, Kecamatan Batu Ceper, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Tersangka RP dijerat dengan undang-undang tentang perlindungan konsumen serta undang-undang tentang merek dan indikasi geografis. RP terancam hukuman penjara 5 tahun dengan denda hampir Rp 2 miliar.

"Kemudian kepada tersangka dikenakan Pasal 82 ayat 1 juncto Pasal 8 ayat 1 huruf A dan E UU Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen," ujarnya.

"Kemudian Pasal 100 ayat 1 UU Nomor 20 tahun 2016 tentang merek dan indikasi geografis, ini pasal yang dikenakan terhadap yang bersangkutan. Yang mana ancamannya adalah 5 tahun penjara dengan denda hampir Rp 2 miliar," sambungnya.

Jumlah oli yang diproduksi pelaku, simak selengkapnya di halaman berikut



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT