Diduga Akibat Polusi Batu Bara, Warga Marunda Juga Alami Asma-Gatal Kulit

Wildan Noviansah - detikNews
Selasa, 15 Mar 2022 17:50 WIB
Polusi batu bara di Marunda, Jakarta Utara.
Tebalnya abu bekas pembakaran batu bara di Marunda, Jakut (Wildan Noviansah/detikcom)
Jakarta -

Warga Marunda, Jakarta Utara (Jakut), mengeluhkan gangguan kesehatan akibat pencemaran polusi abu batu bara. Sebagian warga mengalami gangguan pernapasan hingga penyakit kulit diduga akibat polusi tersebut.

Salah seorang warga Rusunawa Marunda Blok A 10, Saras, mengatakan anaknya mengalami penyakit asma diduga akibat polusi. Saat itu anaknya masih berumur 7 tahun atau duduk di kelas 1 SD.

"Dia juga punya riwayat asma. Dia tadinya nggak punya asma, nggak tahu itu semenjak kelas 1 pemicunya apa nggak tahu. Dari kecil dia sehat, gendut badannya. Pas dia sekolah, dia punya riwayat, kita nggak tahu karena jajanan atau debu itu juga," kata Saras saat ditemui detikcom di rumahnya, Selasa (15/3/2022).

Saras punya dugaan tersebut karena lokasi sekolah anaknya yakni SDN 05 Marunda berdampingan dengan lokasi bongkar-muat batu bara.

"Ditambah juga kan sekolah di SDN 05 Marunda yang deket banget sama batu bara itu. Soalnya kan lingkungan kita emang terdampak juga," ujarnya.

Warga Marunda, Jakut, mengeluhkan gangguan pernapasan hingga penyakit kulit diduga akibat pencemaran polusi abu batu bara. (Wildan Noviansah/detikcom)Warga Marunda, Jakut, mengeluhkan gangguan pernapasan hingga penyakit kulit diduga akibat pencemaran polusi abu batu bara. (Wildan Noviansah/detikcom)

Lebih lanjut, Saras juga menuturkan dia beserta semua anggota keluarganya sempat mengalami penyakit gatal kulit. Dia mengaku, saat masih tinggal di Pluit, keluarganya belum pernah mengalami hal tersebut.

"Saya juga pernah penyakit gatal sekeluarga dua minggu, tapi kan kita juga nggak tahu penyebabnya. Saya kira kutu kasur, tapi ini beda gatalnya. Kalau di Pluit biar udaranya itu deket jalan, tapi nggak pernah gatel apa, terus kelilipan juga nggak apa-apa," ucapnya.

Penuturan serupa diungkapkan Ketua RW 10, Dompas, yang juga mengalami penyakit kulit. Dia mengatakan sudah mengalami penyakit kulit sejak delapan bulan terakhir. Dia merasakan gatal pada kulitnya.

"Delapan bulan terakhir, jadi ini sembuh saya pakai buat infus itu kering, gatal lagi. Sensasinya gatal, saya tanya ke saudara saya yang paham, katanya itu ada sulfur kalau nggak salah, itu bisa menyebabkan gatal-gatal," ucapnya.

Dompas mengatakan dia dan warga lainnya sempat meminta arahan dan penyelesaian dari pihak kelurahan setempat. Namun kelurahan tidak bisa memberikan penyelesaian.

"Sebetulnya dari teman-teman wilayah sudah laporan, respons mereka (kelurahan) ya sudah. Mereka juga katanya nggak bisa apa-apa," sambungnya.

Dompas menuturkan polusi yang disebabkan batu bara sudah sangat meresahkan. Dia berharap pemerintah bisa sigap dalam menyelesaikan masalah ini.

"Kita berharap pemerintah sigap melakukan penyelesaian ini. Pemerintah ini kan punya dinas terkait, tinggal mau serius atau nggak menyelesaikan masalah ini. Kami di sini yang merasakan secara langsung," katanya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.