Bamsoet Dorong Pemuda Asia Afrika Implementasikan Dasasila Bandung

ADVERTISEMENT

Bamsoet Dorong Pemuda Asia Afrika Implementasikan Dasasila Bandung

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 11 Mar 2022 21:27 WIB
Bamsoet Hadiri Pelantikan Pengurus Organisasi Pemuda Asia Afrika Periode 2021-2026
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menghadiri Pelantikan Pengurus Organisasi Pemuda Asia Afrika Periode 2021-2026 di Jakarta hari ini. Dalam kesempatan ini, Bamsoet mendorong para pemuda untuk berperan dan berkiprah di kancah internasional, khususnya di kawasan Asia-Afrika.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar para pemuda semakin signifikan dan bermakna strategis di tengah globalisasi dan dinamika zaman. Peran penting Pemuda Asia Afrika, kata Bamsoet, dapat dimanifestasikan dalam beberapa dimensi, yakni stabilitas politik dan keamanan, penyelesaian krisis kemanusiaan, pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran, peningkatan kualitas SDM, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemakmuran masyarakat di Asia Afrika.

"Dengan kapasitas kelembagaan yang dimiliki Organisasi Pemuda Asia Afrika (Asian African Youth Government) kiranya dapat dibangun sinergi dan kolaborasi Pemuda Asia Afrika dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan prinsip Dasasila Bandung sebagai legasi yang diwariskan oleh momentum kesejarahan Konferensi Asia Afrika Bandung tahun 1955. Spirit Dasasila Bandung harus terus menjiwai semangat juang segenap pemuda Asia Afrika dalam mewujudkan keadilan sosial, kesetaraan, dan perdamaian abadi," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/3/2022).

Ketua DPR RI ke-20 ini pun menjelaskan Dasasila Bandung pada prinsipnya meletakkan dasar-dasar norma internasional yang mengamanatkan adanya penghormatan terhadap berbagai hal. Adapun hal ini termasuk hak-hak dasar manusia, kedaulatan dan integritas teritorial, pengakuan terhadap kesetaraan antar bangsa, menjauhi intervensi terhadap persoalan domestik suatu negara, serta penghormatan terhadap hak untuk mempertahankan diri.

Selain itu, Dasasila Bandung juga mengamanatkan untuk menghindari penyalahgunaan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif, menentang adanya agresi dan pelanggaran terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik, mengedepankan jalan damai dalam setiap perselisihan internasional, memajukan kepentingan bersama dan kerja sama, hingga menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

"Meskipun Dasasila Bandung adalah 'suara regional' dari negara-negara di Asia dan Afrika yang dianggap sebagai 'dunia ketiga', namun perlu diingat dua hal. Pertama, bahwa Konferensi Asia Afrika di Bandung dihadiri oleh 29 pemimpin dari Asia dan Afrika, yang merupakan representasi dari separuh penduduk dunia. Kedua, bahwa muatan materi Dasasila Bandung adalah nilai-nilai universal yang berlaku bagi setiap bangsa yang selaras dan senafas dengan nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi oleh Persatuan Bangsa-Bangsa," kata Bamsoet.

Lebih lanjut, Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini menambahkan saat ini dunia masih dihadapkan pada beberapa fakta miris. Berdasarkan laporan tahunan yang disusun Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Pangan Dunia (WFP), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat ada 768 juta orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia pada tahun 2021.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 418 juta berada di Asia, dan 282 juta di Afrika. Selain itu, kata Bamsoet, negara-negara Asia dan Afrika juga masih mendominasi predikat sebagai negara-negara miskin dengan tingkat pendidikan rendah.

"Kondisi ini semakin diperburuk dengan hadirnya pandemi COVID-19. Pertumbuhan ekonomi global merosot tajam, di mana pada tahun 2020 yang lalu, pertumbuhan ekonomi global terkontraksi hingga minus 3,2 persen. Pembatasan aktivitas perekonomian, dan penerapan lockdown di beberapa negara, telah meluluhlantakkan perdagangan internasional, yang terkontraksi hingga minus 8,3 persen. Resesi akibat COVID-19 ini merupakan yang terburuk dalam sejarah sejak Perang Dunia II. Dampak yang ditimbulkan lebih buruk dari dampak the Great Depression pada tahun 1930-an," ungkap Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menyebutkan akses antara negara maju dan negara berkembang dalam mendapatkan pasokan vaksin saat ini masih mengalami ketimpangan. Adapun kesenjangan ini tergambar nyata dari minimnya vaksin yang terdistribusi ke Afrika.

Dari sekitar 5,7 miliar dosis vaksin yang terdistribusi secara global sejauh ini, hanya sekitar 2 persen yang disalurkan ke Afrika. Hingga September 2021, jumlah warga di benua Afrika yang telah mendapatkan vaksinasi juga masih kurang dari 3,5 persen. Menurut Bamsoet, angka tersebut merupakan angka yang kontras jika dibandingkan dengan negara-negara maju, yang lebih dari 80 persen populasinya telah divaksinasi.

"Jika kita kembali merujuk pada semangat Dasasila Bandung yang dilahirkan pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955, maka atas nama peri kemanusiaan, peri keadilan, dan solidaritas antar bangsa, ketidaksetaraan dan ketimpangan tersebut adalah 'musuh bersama' yang harus kita hadapi dengan dengan semangat kebersamaan dan gotong royong. Karenanya, dibutuhkan semangat kebersamaan dan determinasi tinggi dari Organisasi Pemuda Asia Afrika agar mampu berkontribusi dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan tersebut," pungkas Bamsoet.

Sebagai informasi, dalam acara ini hadir antara lain Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Yusron B. Ambary, Presiden Organisasi Pemuda Asia Asia-Afrika Respiratori Saddam AlJihad beserta sejumlah duta besar negara sahabat.

(fhs/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT