Arum Berprestasi di Panahan Berkuda, Ortu Bicara soal Biaya

ADVERTISEMENT

Inspirasi

Arum Berprestasi di Panahan Berkuda, Ortu Bicara soal Biaya

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 27 Feb 2022 20:19 WIB
Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)
Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)
Jakarta -

Video yang memperlihatkan anak perempuan berkuda sambil memanah jitu menjadi viral. Publik dibuat terkagum dengan keterampilan anak perempuan yang beraksi bak ksatria di film kolosal itu. Berapa sih biaya yang harus dikeluarkan untuk olahraga semacam itu?

Anak perempuan dalam video viral beberapa pekan terakhir ini adalah Arum Nazlus Shobah. Usianya baru 13 tahun dan sudah berprestasi dalam kejuaraan di luar negeri. Nama olahraganya adalah panahan berkuda atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai horseback archery.

Ayah Arum adalah Sekretaris Jenderal Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI). Dia menjelaskan, olahraga ini tergolong sebagai olahraga-kebudayaan atau ethnosport, diakui UNESCO sebagai warisan kebudayaan tak benda. Olahraga ini dikenal berasal dari Turki, populer pula di negara-negara Asia Tengah, Mongolia, Iran, Korea, hingga Hungaria di Eropa Tengah.

Indonesia jelas bukan negara empat musim dengan padang rumput tak berbatas seperti wilayah Turko-Mongol. Kuda juga bukan hewan yang umum bagi kebanyakan masyarakat Indonesia masa kini. Harga kuda dan perawatan plus fasilitas pendukungnya tentu butuh biaya.

"Biaya merawat kuda pasti besar. Per ekor, biaya perawatan minimal Rp 4 juta per bulan meliputi pakan hingga tenaga yang merawat," kata Sunaryo kepada detikcom, Jumat (25/2/2022).

Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)Arum Nazlus Shobah dan kudanya, Ashariah. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)

Sunaryo sendiri punya lima kuda untuk anak-anaknya berlatih, termasuk Arum (13) dan Arsa Wening (15) yang berprestasi. Kuda-kuda itu dia tempatkan di stable (kandang kuda) kawasan Bogor, Jawa Barat. Keluarga Sunaryo sendiri bermukim di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Kuda jenis kuda G yang cocok untuk digunakan olahraga panahan berkuda bernilai sekitar Rp 70 juta. Tingginya sekitar 150 cm-155 cm. Untuk titip kuda di stable, ada biayanya sendiri yakni sekitar Rp 5 sampai Rp 8 juta. Sejauh yang Sunaryo ketahui, pelaku olahraga panahan berkuda di berbagai negara memang punya kuda sendiri, bukan menggunakan kuda sewaan untuk melakukan olahraga panahan berkuda.

Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)Arum Nazlus Shobah, pemanah berkuda. (Dok pribadi Sunaryo Adhiatmoko)

"Ini karena pemilik stable (kandang kuda) rasanya tidak siap bila kudanya digunakan untuk latihan panahan berkuda. Soalnya olahraga ini full speed dan rumit, pemilik kuda bisa rugi banget. Makanya panahan berkuda ini bukan bisnis tapi pendidikan," kata pria yang berprofesi sebagai konsultan filantropi ini.

Arum Nazlus Shobah (Grandyos Zafna/detikcom)Arum Nazlus Shobah (Grandyos Zafna/detikcom)

Sunaryo menjelaskan ada nilai-nilai positif yang bisa dipetik dari aktivitas panahan berkuda. Si anak bakal berlatih kepemimpinan dan respons untuk menyikapi kuda yang ditungganginya. Soalnya, kata dia, kuda bisa mendeteksi penunggang yang takut-takut. Bila penunggang takut maka kuda tidak mau lari. Si anak juga dilatih punya sikap peduli terhadap kuda dan timnya. Minimal butuh tiga orang dalam tim untuk menunjang aktivitas ini.

"Aktivitas panahan berkuda membentuk mental anak-anak," ujarnya.

(dnu/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT